Doa yang Paling Baik

berdoaDahulu kala ada sebuah desa di suatu tempat, di suatu waktu di planet bumi atau mungkin di planet lain. Di desa ini, ada seorang suci. Setiap kali penduduk desa mempunyai suatu masalah, suatu kesulitan atau bencana, atau sesuatu yang tidak beres di desa itu, mereka akan datang ke orang suci ini dan memohon pertolongannya, seperti berdoa kepada Tuhan dan bermeditasi untuk mereka, dan melihat apa yang terjadi. Kemudian orang suci akan pergi retret ke sebuah hutan yang khusus, dan ia akan duduk di suatu tempat yang sangat khusus. Dan kemudian ia akan mengucapkan doa yang sangat khusus. Dan lalu kebetulan bahwa entah bagaimana Tuhan selalu mendengarkan doanya. Jadi para penduduk desa selalu mendapatkan pertolongan yang mereka perlukan.

Tapi kemudian, suatu hari, sama seperti orang lainnya, ia meninggal dunia. Maka sekarang para penduduk desa tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sebab masalah mereka tidak meninggal. Orang suci itu meninggal, namun masalah mereka masih hidup. Dan masalah baru bermunculan setiap hari. Sungguh lucu betapa kita meninggal, tapi masalah kita tak pernah meninggal! Maka setelah para penduduk desa berpikir beberapa waktu lamanya, mereka memutuskan bahwa mereka membawa masalah mereka kepada penerus orang suci itu.

Penerus dari orang suci itu tidak begitu suci; orang-orang mengetahui hal itu. Tapi tak ada orang lain yang lebih baik daripadanya. Jadi orang-orang datang kepadanya dan meletakkan masalah mereka di hadapannya, dan memohon pertolongannya. Jadi orang yang tidak begitu suci ini juga pergi ke hutan. Dan kemudian ia duduk di sana dan mengucapkan doa yang sangat khusus. Ia tidak tahu apa yang diucapkan gurunya dulu, tapi sekarang ia mengucapkan sesuatu yang spesial seperti, “Ya Tuhan! Engkau tahu saya bukanlah seorang suci.” Yah, paling tidak ia adalah seorang yang sangat jujur. “Tapi tentu saja Engkau tidak akan mempermasalahkan hal itu demi penduduk desa ini, ya kan? Maka dengarlah doa saya dan datanglah membantu saya.”

Dan Tuhan berpikir, “Itu cukup masuk akal. Sekalipun orang ini bukan orang suci, penduduk desa tak ada hubungannya dengan ketidaksucian orang ini.” Jadi Tuhan mendengarkan doanya, dan kemudian menolong penduduk desa sama seperti dulu.

Maka. penduduk desa terus berdatangan ke orang yang tidak begitu suci ini, meminta ia berdoa kepada Tuhan dan mengatasi masalah mereka. Sejauh itu, cukup baik. Tapi kalian tahu apa yang terjadi? Kebetulan orang yang tidak begitu suci ini juga meninggal dunia. Wah! Masalah kita tak ada akhirnya dan tak ada penyelesaiannya. Penduduk desa juga merasa bingung sekarang: Apa yang bisa mereka lakukan? Maka mereka mencoba mencari orang yang lain, bahkan bukan seorang suci, dan bahkan bukan penerus dari guru yang lain, tapi seseorang yang lebih spesial, mungkin seperti orang yang lebih baik hati dari lainnya, atau mungkin lebih rajin berdoa.

Jadi, mereka hanya mengambil seorang dari seluruh penduduk. Dan kemudian mereka berkata, “Sekarang ini adalah tugasmu. Kamu berdoa untuk kami. Kami mempunyai berbagai masalah. Kamu harus mencobanya.” Tapi kebetulan bahwa orang ini tidak tahu apa pun tentang kedua orang sebelumnya. Jadi ia bahkan tidak tahu di mana lokasi hutan itu. Ya, ia tahu hutan itu, tapi ia tidak tahu di mana tempat khusus itu. Dan ia bahkan sama sekali tidak tahu doa yang khusus. Jadi, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia hanya pergi ke hutan dan duduk di mana saja, bukan di tempat yang khusus. Karena sebelumnya, kedua orang itu biasa pergi ke tempat yang sangat khusus. Bagi mereka, tempat itu sangat keramat. Maka oleh karena itu setiap kali mereka berdoa, doa mereka dikabulkan. Dan bagi penerusnya, juga sama saja. Setidaknya ia tahu doa yang sangat spesial, dan ia tahu tempat yang sangat khusus di mana gurunya biasa duduk di hutan yang sangat spesial itu.

Tapi sekarang, orang ini tidak tahu apa pun tentang hal itu. Jadi, apa yang dilakukannya? Ia hanya berlutut atau duduk di sana, dan berdoa kepada Tuhan, “Ya Tuhan! Jika formula doa atau si pendoa yang membuat-Mu mendengarkan, maka saya tak bisa berbuat apa-apa. Tapi tolong jangan melekat pada formula doa atau si pendoa, dan dengarkanlah saya. Desa kami mempunyai banyak masalah. Mengapa Engkau tidak membantu mereka?” Dan sesudah itu, ia langsung berdiri dan pulang ke rumah untuk tidur. Dan Tuhan mendengarkan juga doanya, karena tidak ada orang lain yang berdoa pada-Nya. Hanya orang itu yang berdoa. Jadi Tuhan berkata, “Baik. Saya akan menolong. “ Jadi Tuhan juga menolong para penduduk desa, seperti sebelumnya.

Sekarang orang ini tiba-tiba menjadi orang yang sangat spesial, dan ia terus melakukan tugas khususnya setiap hari seperti itu. Tapi kebetulan bahwa suatu hari orang ini juga pergi menemui Santo Petrus, seperti kita semuanya. Jadi, orang ini juga meninggal dunia. Itu sangat menyedihkan! Nasib macam apa yang dialami para penduduk desa? Orang-orang mati satu persatu. Tapi desa itu tetap ada, dan masalah mereka tetap ada. Mungkin anak-anak penduduk desa melanjutkan, dan mereka tetap memelihara kebiasaan mereka. Jadi, sekarang mereka mencari lagi seseorang untuk melakukan tugas berdoa bagi mereka. Lucu! Mengapa orang-orang tidak berdoa langsung dan mengapa mereka berpikir mereka harus mencari seseorang? Itu adalah kebiasaan. Kita mengandalkan sesuatu, dan kita melekat pada sesuatu karena itu berhasil suatu waktu, tapi itu tak akan berhasil lagi. Bahkan setelah itu, kita masih melekat.

Jadi setelah orang ini meninggal, para penduduk desa berada dalam kesulitan. Tak ada seorang pun yang memenuhi kategori kesucian, atau tekun berdoa. Tak ada orang yang saleh di desa itu. Jadi mereka berada dalam kesulitan besar. Mereka tidak tahu cara berkomunikasi dengan Tuhan lagi. Dan masalah mereka tetap menumpuk dan menumpuk, dan tak ada yang menolong. Jadi mereka berpikir dan kemudian berunding bersama, dan memutuskan untuk memilih orang yang mana saja. Dan kebetulan mereka memilih seorang pengusaha.

Orang ini sangat kaya. Ia tidak perlu bekerja keras, jadi ia punya waktu untuk berdoa bagi orang-orang. Itulah yang mereka pikirkan. Itu pun boleh. Uang adalah lebih baik daripada tak ada apa pun. Jika Anda tidak punya kebajikan dan Anda punya uang, itu juga baik. Jadi, orang kaya itu menjadi pendeta terpaksa, semacam itu.

Jadi sekarang, para penduduk desa mempercayakan dia tugas berkomunikasi dengan Tuhan dan berdoa untuk mereka. Tapi pengusaha ini, apa yang ia tahu tentang berdoa? Semua yang ia tahu adalah bank, uang, pembukuan, pajak dan hal semacam itu. Tapi setiap orang memohon ia untuk berdoa, jadi akhirnya ia menerima tugas itu. Karena ia selalu lebih tertarik dengan uang daripada Tuhan, ia tidak berbicara panjang lebar. Ia akan berbicara dengan langsung. Ia hanya duduk di rumahnya, di depan mesin kasirnya, dan melihat ke atas Surga, atau mungkin ia melihat ke komputernya, dan ia berkata, “Nah sekarang, Tuhan macam apa Engkau, Engkau sangat mampu mengatasi semua masalah di dunia ini, yang telah Engkau buat?” (Ini berarti semua masalah engkau sendiri yang menyebabkannya) “Engkau mampu mengatasi masalah -masalah, tapi Engkau tak melakukan apa pun. Jadi Tuhan macam apa Engkau? Dan kemudian Engkau menolak melakukan tugas yang merupakan kewajibanmu. Sekarang Engkau menunggu apa lagi? Engkau sedang menunggu kami berlutut dan memohon-Mu untuk melakukannya? Tuhan macam apa itu? Lakukanlah tugas-Mu! “ Jadi Tuhan merasa malu. Tapi Ia mendengarkan doanya, dan Ia menolong penduduk desa bagaimanapun juga. Jadi, ada berbagai cara berdoa untuk berbagai macam orang.

Dan sekarang, mengapa para penduduk desa, meskipun mereka tidak lebih buruk daripada pengusaha itu, tidak berdoa sendiri, dan mengapa mereka harus mengandalkan seorang perantara seperti ini? Itu adalah karena kemelakatan, kebiasaan dan prasangka. Itulah sebabnya kebanyakan orang, ketika mereka mempunyai suatu masalah, datang kepada seorang pendeta, ulama, atau kepada biarawan. Saya tidak tahu apa bedanya antara seorang pendeta, biarawan atau orang lainnya.

Sebagai contohnya, dalam tradisi agama Buddha, biarawan Mahayana adalah vegetarian setidaknya, dan mereka tidak menikah. Dan kemudian pikiran orang awam mungkin berpikir, Oh! Ya! Ia adalah orang yang sangat suci. Ia vegetarian, dan ia tidak menikah. Ia sangat murni. “Oke, maka mungkin orang-orang punya sebuah alasan. Jadi, kapan pun mereka mempunyai sebuah masalah, mereka mengira bahwa orang itu murni, mereka dapat menemuinya untuk berkomunikasi dengan Tuhan melalui dirinya, seperti sebuah jembatan yang sangat baik. Itu mungkin bisa dimaklumi. Tapi, di agama lainnya, pendeta atau biarawan menikah juga. Mereka makan daging dan minum anggur; itu sangat bebas. Mereka melakukan apa yang kalian lakukan di rumah. Mereka makan apa yang kalian makan setiap hari. Dan mereka berdoa melalui buku yang kalian sendiri juga berdoa melalui buku itu, dan membacanya juga. Jadi, sekarang apa bedanya antara kalian dan pendeta itu, sehingga kalian harus pergi kepadanya? Atau biarawan itu, sehingga kalian harus pergi memohon kepadanya untuk berdoa bagi kalian? Pikirkanlah hal itu. Kalian lihat: Tidak ada bedanya, atau tidak banyak! Kecuali bahwa ia tinggal di biara yang sangat indah, sementara kalian tinggal di rumah yang sangat jelek atau semacam itu. Mungkin biara itu, tempat dimana pendeta tinggal, adalah berbeda, tapi saya tidak tahu jika orangnya adalah berbeda. Jadi, kalian tahu, betapa lucunya kehidupan sebagian orang dari kita!

Dan betapa banyaknya kebiasaan tidak logis yang tetap dipegang dan diyakini oleh orang-orang di planet bumi ini, kehidupan demi kehidupan, dari generasi diteruskan ke generasi berikutnya. Dan orang-orang tidak pernah berhenti dan berpikir betapa tidak logisnya itu. Itulah sebabnya saya mengajarkan kalian metode langsung – untuk berdoa sendiri. Jika saya mempunyai sebuah metode, saya akan memberitahukan kalian, dan kalian melakukannya sendiri. Mengapa saya harus menyimpan semuanya khusus bagi diri saya? Kemudian kalian akan berpikir bahwa saya adalah orang yang spesial. Tak ada orang yang spesial. Kalian harus mempercayai diri kalian sendiri dan melakukan segala sesuatu menurut standar kalian, keyakinan kalian, dan pikiran kalian sendiri tentang bagaimana Tuhan seharusnya, bagaimana Tuhan harus merespon kalian, atau bagaimana Tuhan harus melakukan tugas-Nya. Itu, saya kira, adalah yang terbaik.

sumber : Kisah Ching Hai, http://64.235.42.61/gdc/news/news130/i130.htm#15

No Comments Posted in Artikel, Pandangan Hidup

Leave a Reply

Using Gravatars in the comments - get your own and be recognized!

XHTML: These are some of the tags you can use: <a href=""> <b> <blockquote> <code> <em> <i> <strike> <strong>