Hanya Diri Anda yang Bisa Membuat Anda Sukses

Suatu hari, saat hujan turun, seorang pemuda berteduh di teras rumah. Saat itu ada seorang lelaki tua yang lewat. Dengan nada memohon, pemuda itu berkata, “Pak, bolehkah saya meminjam payung sebentar?”

“Anda, di sana, tidak kena hujan, kenapa perlu payung saya?” dengan diplomatis orang tua itu menolaknya.

Mendengar jawaban bernada penolakan itu, pemuda tersebut melompat ke tengah jalan, lalu berkata, “Sekarang saya kena hujan, maukah Anda membantu saya?”

Orang tua itu membalas, “Anda kena hujan karena Anda tidak membawa payung. Sedangkan saya tidak kena hujan karena saya membawa payung. Anda harus mencari payung untuk melindungi diri Anda, bukan mencari saya untuk melindungi Anda.” Selesai berkata begitu, orang tua itu melangkah pergi.

Pesan

Tuhan hanya akan membantu mereka yang mempersiapkan diri. Anda harus berharap pada diri sendiri. Harus diakui, pertemanan dan networking memang mendukung kesuksesan seseorang, tetapi kalau Anda sendiri tidak punya persiapan, kemampuan, semangat, tekad, keahlian, atau kemampuan yang bisa dijual, siapa yang bisa membantu Anda? Anda membutuhkan payung untuk mencapai kesuksesan dan mencegah kehujanan. Namun, jangan bergantung sepenuhnya pada orang yang membawa payung. Jadi, selalu persiapkan diri Anda sebaik-baiknya!

Sumber: The Best of Chinese Life Philosophies, Leman.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Petani dan Kuda

Johanes Lim dalam bukunya No Pain No Gain (1997) mengisahkan cerita menarik tentang petani dan kuda. Ada seorang petani di suatu desa yang mempunyai anak lelaki dewasa dan seekor kuda. Pada suatu hari si petani mendapati bahwa kudanya telah menghilang ke hutan, tentu saja ia sangat sedih. Kendati demikian, ia mencoba untuk tabah dalam menghadapi musibah itu. Pukulan dari tetangga-tetangganya semakin mengiris-ngiris kepedihan hatinya. Mereka bukannya empati tetapi malah mencemoohnya.

Syukurlah, selang beberapa minggu kemudian si kuda yang hilang tadi kembali. Kuda itu pulang dengan membawa teman seekor kuda liar. Si petani pun bersorak kegirangan.

Sementara untuk menjinakkan kuda liar agar bisa menjadi kuda tunggang, si petani menugaskan anak lelaki satu-satunya. Akan tetapi, kuda hutan itu masih sangat liar, anak petani itu tidak bisa mengendalikannya dan mengalami musibah. Dia jatuh dan terinjak kuda liar itu hingga mengharuskannya istirahat total agar tidak menjadi cacat seumur hidup.

Kembali si petani sedih dan tetangga pun mulai bernyanyi melihat peristiwa itu. Namun, si petani tetap optimis, Hari baik atau hari buruk bukan dia yang menentukan, pikirnya.

Selaku ayah dia sudah melakukan tugas sebaik-baiknya, selaku petani dia sudah mengambil bagiannya yang proporsional.

Namun, pada suatu hari -karena kebetulan pada waktu itu negaranya sedang mengalami perang saudara- datanglah serombongan pejabat militer dan pemerintah setempat untuk merekrut pemuda-pemuda di desa tersebut untuk mengikuti wajib militer. Semua orangtua yang anaknya direkrut untuk wajib militer, tidak tahu apakah anaknya itu akan kembali dalam keadaan hidup atau tidak.

Ketika pejabat militer tersebut tiba di rumah sang petani, dilihatnya kaki putra si petani sedang luka parah akibat jatuh dari tunggangan kuda liar beberapa hari yang lalu. Dia pun luput dari perekrutan wajib militer tersebut. Hari yang baik atau hari yang buruk, tidak ada yang tahu sepanjang kita melakukan tugas kita sebaik-baiknya. Kini para tetangga tidak bernyanyi lagi, sebab mereka telah larut dalam tangisan kesedihan akibat anaknya pergi dan belum tentu kembali.

Seorang bijak pernah berkata, dalam situasi yang serba tidak menentu, satu hal yang tidak dapat berubah namun justru mampu mengubah dunia sekeliling kita, yaitu senyuman, perkataan, dan ungkapan syukur.

Mengucap syukur merupakan tanda ketergantungan seseorang pada kuasa yang lebih berkuasa. Mengucap syukur menunjukkan kerendahan hati yang mulia untuk menerima apa yang patut diterima. Bahkan, bersyukur sendiri merupakan parameter kadar spiritualitas seseorang dalam berhubungan dengan Sang Pencipta-nya. Seorang sufi pernah bertutur bahwa salah satu indikator kualitas hubungan spiritual ini adalah ungkapan pertama yang keluar dari mulut kita setiap kali bangun pagi. Ada dua tipe manusia menghadapi pagi hari di saat bangun tidurnya. Manusia pertama berucap, “Terima kasih Tuhan untuk pagi yang indah ini!” Sedangkan tipe manusia yang kedua berkata, “Aduh, Tuhan. Kok sudah pagi lagi!”

Survei menunjukkan, seorang pekerja yang senantiasa bersyukur atas apa yang diterimanya baik suka maupun duka ternyata membuat dia lebih tahan terhadap penyakit stres akibat kerja dibandingkan mereka yang selalu menggerutu. Itulah sebabnya Deepak Chopra dalam bukunya Journey Into Healing pernah berkata, Health is not just the absence of disease, but the inner joyfulness that happen all the time” (Kesehatan tidak hanya berarti tidak adanya penyakit, tetapi kebahagiaan dan rasa syukur dari dalam, yang mengendap dalam waktu yang lama).

Apa yang diterima saat ini, suka maupun duka tidak menjadi alasan untuk tidak bersyukur. Bersyukur pada saat kita menerima apa yang diinginkan, kebaikan, kelimpahan, dan kesejahteraan merupakan hal yang mudah dan wajar. Namun, mensyukuri apa yang tidak kita terima padahal semestinya diterima merupakan usaha sendiri yang mulia untuk bersyukur. Mengucap syukur atas rekan yang sudah terlebih dahulu dipromosikan merupakan nilai kerendahan hati dan kematangan spiritual yang tinggi dalam bergaul. Bersukacita dan bersyukur atas keberhasilan materi seseorang merupakan motivator yang efektif untuk meningkatkan nilai dan jati diri. Bersyukur mungkin dapat dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana dan tidak perlu pemikiran teologia yang mendalam. Ketika kita tahu memposisikan diri di alam ini sebagai ciptaan yang memiliki nilai yang tinggi di antara seluruh ciptaan, di sinilah langkah untuk mengucap syukur dimulai.

Seperti kisah petani di atas, dibalik ucapan syukur selalu ada optimisme yang luar biasa. Optimisme yang sesungguhnya adalah menyadari masalah tetapi mengenali pemecahannya, mengetahui kesulitan namun yakin bahwa itu dapat diatasi, melihat yang negatif tetapi menekankan yang positif, menghadapi yang terburuk, namun mengharapkan yang terbaik, dan punya alasan untuk menggerutu tetapi memilih untuk tersenyum. Jadi, mengucap syukurlah dalam segala hal.

Parlindungan Marpaung, Setengah Isi Setengah Kosong Half Full-Half Empty, MQS Publishing, 2006

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Jadilah Apa yang Kamu Inginkan

Ada seorang gadis kecil yang lahir di suatu keluarga besar yang miskin. Mereka tinggal dalam sebuah rumah sederhana di Tenesse, Amerika Serikat. Gadis itu adalah anak ke-10 dari 12 bersaudara. Ia lahir prematur dan sangat rapuh. Ketika berumur 4 tahun, ia terkena pneumonia dan demam scarlet – sebuah kombinasi yang mematikan yang akhirnya membuat kaki kirinya tak berdaya dan tak bisa berfungsi dengan baik. Ia harus mengenakan penopang kaki dari besi. Bagaimanapun, ia masih beruntung memiliki ibu yang selalu mendukungnya.

Sang ibu berkata pada anak gadisnya yang sangat cemerlang bahwa meskipun kakinya cacat, ia dapat menjadi apa pun yang ia inginkan dalam hidup. Sang ibu berkata bahwa yang ia butuhkan adalah keyakinan yang kuat, persistensi, keberanian, dan semangat pantang menyerah.

Kemudian, pada saat ia berumur 9 tahun, gadis kecil itu melepas penopang kakinya, dan mengabaikan apa yang dikatakan dokter bahwa kakinya tidak akan pernah kembali normal.

Dalam empat tahun, ia telah mengembangkan langkah ritmis – sebuah keajaiban medis. Kemudian, gadis itu mendapatkan impian-impian yang luar biasa bahwa suatu saat ia akan menjadi pelari wanita terbaik di dunia. Bagaimana mungkin itu terjadi, mengingat kondisi kakinya yang seperti itu?

Pada umur 13 tahun, ia mengikuti pertandingan. Ia tiba paling akhir – sangat akhir. Ia mengikuti setiap pertandingan di sekolah, dan setiap kali ia selalu tiba terakhir. Semua orang menyuruhnya berhenti! Tapi, suatu kali ia berhasil memenangkan pertandingan. Sejak saat itu, Wilma Rudolp memenangkan setiap pertandingan yang diikutinya.

Wilma kuliah di Universitas Negeri Tenesse, di mana ia bertemu dengan seorang pelatih bernama Ed Temple. Pelatih itu melihat semangat pantang  menyerah dalam diri Wilma. Gadis itu memiliki keyakinan yang kuat dan bakat alam yang besar. Ia melatih Wilma dengan baik sehingga gadis itu dapat mengikuti pertandingan olimpiade.

Di sana, ia harus berhadapan dengan pelari wanita terbaik dunia saat itu, Jutta Heine dari Jerman. Jutta belum pernah terkalahkan oleh siapa pun. Tetapi pada lintasan 100 meter, Wilma Rudolph yang menang! Ia mengalahkan Jutta lagi pada lintasan 200 meter. Kini, Wilma berhasil mengantongi dua medali emas olimpiade.

Akhirnya, tibalah pertandingan estafet 400 meter. Wilma harus bersaing dengan Jutta lagi. Dua orang pertama dari tim Wilma berhasil melakukan estafet dengan baik. Tetapi orang ketiga, saking senangnya, menjatuhkan tongkat pada saat dioperkan kepada Wilma. Wilma melihat Jutta telah berlari jauh di depannya. Sepertinya, tidak mungkin Wilma bisa mengalahkan Jutta. tetapi Wilma melakukannya! Dan ia mendapatkan medali emas olimpiade ketiganya.

Renungan

Ada perbedaan antara seorang juara dengan seorang pecundang. Di antaranya adalah keyakinan yang kuat, impian yang besar, persistensi, dan semangat pantang menyerah. Itu semua ditunjukkan oleh Wilma – seorang gadis berkaki cacat.

Sayangnya, masih sedikit orang yang berjiwa juara. Lebih banyak orang yang cepat menyerah pada keadaan dan cenderung menyalahkan kondisinya. Padahal, mereka dikaruniai tubuh yang normal dan pikiran yang sehat. Ketika hidup miskin, mereka menyalahkan nasib dengan berkata, mengapa tidak dilahirkan dalam keluarga kaya? Mengapa punya orangtua yang miskin sehingga tidak bisa membiayai kuliah? Mengapa tidak diberi wajah yang ganteng agar bisa menikah dengan gadis kaya?

Saat melihat orang lain sukses, bukannya terpacu untuk berhasil malah mencari-cari pembenaran diri dengan berpikir, pantas saja dia sukses, punya koneksi sih! Wajar bila dia berhasil, orangtuanya kan punya modal banyak! Jelas saja laris, ia punya teman-teman pejabat! Dan sebagainya.

Kita seharusnya malu, ada seseorang dengan keterbatasan yang mampu mencapai prestasi yang mengagumkan. Sementara itu, kita yang punya segalanya, malah membuat hidup menjadi tak berarti. Menyia-nyiakan kesempatan yang datang, memilih menyerah sebelum bertanding, dan berlindung dibalik pembenaran diri.

Marilah berubah sejak sekarang! Kita bisa menjadi apa saja yang kita inginkan.

Dessy Danart, Hadiah Terindah 88 Kisah Motivasi dan Inspirasi bagi Sukses Hidup dan Karier, Penerbit Andi, 2007

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Pertapa Muda dan Kepiting

Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, tampak seorang pertapa muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai. Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar tidak beraturan.

Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera melihat ke arah tepi sungai di mana sumber suara tadi berasal. Ternyata, di sana tampak seekor kepiting yang sedang berusaha keras mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.

Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan. Karena itu, ia segera mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat tangan terjulur, dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa muda. Meskipun jarinya terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi hati pertapa itu puas karena bisa menyelamatkan si kepiting.

Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya. Belum lama bersila dan mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara yang sama dari arah tepi sungai. Ternyata kepiting tadi mengalami kejadian yang sama. Maka, si pertapa muda kembali mengulurkan tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting demi membantunya. Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus lagi. Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya makin membengkak karena jepitan capit kepiting.

Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang menghampiri dan menegur si pertapa muda, “Anak muda, perbuatanmu menolong adalah cerminan hatimu yang baik, tetapi mengapa demi menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting melukaimu hingga sobek seperti itu?”

“Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang benda. Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih, maka saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa menolong nyawa makhluk lain, walaupun itu hanya seekor kepiting,” jawab si pertapa muda dengan kepuasan hati karena telah melatih sikap belas kasihnya dengan baik.

Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut sebuah ranting. Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang terlihat kembali melawan arus sungai. Segera, si kepiting menangkap ranting itu dengan capitnya.

“Lihat anak muda. Melatih mengembangkan sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, yakni untuk menolong makhluk lain, bukankah tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri. Ranting pun bisa kita manfaatkan, betul kan?”

Seketika itu, si pemuda tersadar. “Terima kasih, Paman. Hari ini saya belajar sesuatu, mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan kebijaksanaan. Di kemudian hari, saya akan selalu ingat kebijaksanaan yang paman ajarkan.”

Pembaca yang budiman, mempunyai sifat belas kasih, mau memerhatikan dan menolong orang lain adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu kita berikan kepada anak kita, orangtua, sanak saudara, teman, atau kepada siapa pun. Tetapi, kalau cara kita salah, sering kali perhatian atau bantuan yang kita berikan bukannya memecahkan masalah, namun justru menjadi bumerang.

Kita yang tadinya tidak tahu apa-apa dan hanya sekadar berniat membantu, malah harus menanggung beban dan kerugian yang tidak perlu. Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat baik, seharusnya diberikan dengan cara yang tepat dan bijak. Dengan begitu, bantuan itu nantinya tidak hanya akan berdampak positif bagi yang dibantu, tetapi sekaligus membahagiakan dan membawa kebaikan pula bagi kita yang membantu.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Kekayaan Manusia yang Terbesar

Seorang sahabat yang mulai kelelahan hidup, pagi bangun, berangkat ke kantor, pulang malam dalam kelelahan, serta amat jarang bisa merasakan sinar matahari di kulit, kemudian bertanya, Untuk apa hidup ini? Ada juga orang tua yang sudah benar-benar lelah mengungsi (kecil mengungsi di rumah orang tua, dewasa mengungsi ke lembaga pernikahan, tua mengungsi di rumah sakit), dan juga bertanya serupa. Objek sekaligus subjek yang dikejar dalam hidup memang bermacam-macam. Ada yang mencari kekayaan, ada yang mengejar keterkenalan, ada yang lapar dengan kekaguman orang, ada yang demikian seriusnya di jalan-jalan spiritual sampai mengorbankan hampir segala-galanya. Dan tentu saja sudah menjadi hak masing-masing orang untuk memilih jalur bagi diri sendiri.

Namun yang paling banyak mendapat pengikut adalah mereka yang berjalan atau berlari memburu kekayaan (luar maupun dalam). Pedagang, pengusaha, pegawai, pejabat, petani, tentara, supir, penekun spiritual sampai dengan tukang sapu, tidak sedikit kepalanya yang diisi oleh gambar-gambar hidup agar cepat kaya. Sebagian bahkan mengambil jalan-jalan pintas.

Yang jelas, pilihan menjadi kaya tentu sebuah pilihan yang bisa dimengerti. Terutama dengan kaya materi manusia bisa melakukan lebih banyak hal. Dengan kekayaan di dalam, manusia bisa berjalan lebih jauh di jalan-jalan kehidupan. Dan soal jalur menjadi kaya mana yang akan ditempuh, pilihan yang tersedia memang amat melimpah. Dari jualan asuransi, ikut MLM, memimpin perusahaan, jadi pengusaha, sampai dengan jadi pejabat tinggi. Namun, salah seorang orang bijak dari Timur pernah menganjurkan sebuah jalan: contentment is the greatest wealth. Tentu agak unik kedengarannya. Terutama di zaman yang serba penuh dengan hiruk pikuk pencaharian keluar. Menyebut cukup sebagai kekayaan manusia terbesar, tentu bisa dikira dan dituduh miring.

Ada yang mengira menganjurkan kemalasan, ada yang menuduh sebagai antikemajuan. Dan tentu saja tidak dilarang untuk berpikir seperti ini. Cuma, bagi setiap pejalan kehidupan yang sudah mencoba serta berjalan jauh di jalur-jalur cukup, segera akan mengerti, memang merasa cukuplah kekayaan manusia yang terbesar. Bukan merasa cukup kemudian berhenti berusaha dan bekerja. Sekali lagi bukan. Terutama karena hidup serta alam memang berputar melalui hukum-hukum kerja. Sekaligus memberikan pilihan mengagumkan, bekerja dan lakukan tugas masing-masing sebaik-baiknya, namun terimalah hasilnya dengan rasa cukup.

Dan ada yang berbeda jauh di dalam sini, ketika tugas dan kerja keras sudah dipeluk dengan perasaan cukup. Tugasnya berjalan, kerja kerasnya juga berputar. Namun rasa syukurnya mengagumkan. Sekaligus membukakan pintu bagi perjalanan kehidupan yang penuh kemesraan. Tidak saja dengan diri sendiri, keluarga, tetangga serta teman. Dengan semua perwujudan Tuhan manusia mudah terhubung ketika rasa syukurnya mengagumkan. Tidak saja dalam keramaian manusia menemukan banyak kawan, di hutan yang paling sepi sekalipun ia menemukan banyak teman.

Dalam terang cahaya pemahaman seperti ini, rupanya merasa cukup jauh dari lebih sekadar memaksa diri agar damai. Awalnya, apa pun memang diikuti keterpaksaan. Namun begitu merasa cukup menjadi sebuah kebiasaan, manusia seperti terlempar dengan nyaman ke sarang laba-laba kehidupan. Di mana semuanya (manusia, binatang, tetumbuhan, batu, air, awan, langit, matahari, dll) serba terhubung sekaligus menyediakan rasa aman nyaman di sebuah titik pusat.

Orang tua mengajarkan hidup berputar seperti roda. Dan setiap pencaharian kekayaan ke luar yang tidak mengenal rasa cukup, mudah sekali membuat manusia terguncang menakutkan di pinggir roda. Namun di titik pusat, tidak ada putaran. Yang ada hanya rasa cukup yang bersahabatkan hening, jernih, sekaligus kaya. Bagi yang belum pernah mencoba, apalagi diselimuti ketakutan, keraguan dan iri hati, hidup di titik pusat berbekalkan rasa cukup memang tidak terbayangkan. Hanya keberanian untuk melatih dirilah yang bisa membukakan pintu dalam hal ini.

Hidup yang ideal memang kaya di luar sekaligus di dalam. Dan ini bisa ditemukan orang-orang yang mampu mengombinasikan antara kerja keras di satu sisi, serta rasa cukup di lain sisi. Bila orang-orang seperti ini berjalan lebih jauh lagi di jalan yang sama, akan datang suatu waktu dimana amat bahagia dengan hidup yang bodoh di luar, namun pintar mengagumkan di dalam. Biasa tampak luarnya, namun luar biasa pengalaman di dalamnya. Ini bisa terjadi, karena rasa cukup membawa manusia pelan-pelan mengurangi ketergantungan akan penilaian orang lain. Jangankan dinilai baik dan pintar, dinilai buruk sekaligus bodoh pun tidak ada masalah.

Salah satu manusia yang sudah sampai di sini bernama Susana Tamaro. Dalam novel indahnya berjudul Pergi ke Mana Hati Membawamu, ia kurang lebih menulis: Kata-kata ibarat sapu. Ketika dipakai menyapu, lantai lebih bersih namun debu terbang ke mana-mana. Dan hening ibarat lap pel. Lantai bersih tanpa membuat debu terbang. Dengan kata lain, pujian, makian, kekaguman, kebencian, dan kata-kata manusia sejenis, hanya menjernihkan sebagian, sekaligus memperkotor di bagian lain (seperti sapu). Sedangkan hening di dalam bersama rasa cukup seperti lap pel, bersih, jernih tanpa menimbulkan dampak negatif.

Manusia lain yang juga sampai di sini bernama Chogyum Trungpa, di salah satu karyanya yang mengagumkan (Shambala, the Sacred Path of the Warrior), ia menulis: “This basic wisdom of Shambala is that in this world, as it is, we can find a good and meaningful human life that will also serve others. That is our richness. Itulah kekayaan yang mengagumkan, bahwa dalam hidup yang sebagaimana adanya (bukan yang seharusnya) kita bisa menemukan kehidupan berguna sekaligus pelayanan bermakna buat pihak lain.

Gede Prama, Kebahagian yang Membebaskan Menghidupkan Lentera di Dalam Diri, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
Mencari Air di Dalam Air

Mencari kebahagiaan, itulah jawaban banyak sekali manusia ketika ditanya apa yang dicari melalui kegiatan bangun pagi, kerja keras, tidur amat terbatas sampai dengan membayarnya dengan hidup yang sakit-sakitan. Ada yang bertemu penuh rasa syukur sekali waktu saja. Namun sebagian lebih manusia tidak pernah ketemu. Terutama karena kebahagiaan berperilaku semakin dicari semakin lari. Siapa yang mencari kebahagiaan dalam barang, ia senantiasa dibawa lari keinginan yang terus menaik. Siapa yang mencarinya dalam uang, sering kali kebahagiaan dibawa lari oleh jumlah yang tidak pernah cukup. Siapa yang mencarinya dalam jabatan, semakin tinggi jabatannya semakin tinggi juga rasa takut kehilangan. Siapa yang mencarinya dalam keterkenalan, cepat atau lambat keterkenalan membawa onak duri. Ada duri ego, tinggi hati, harga diri sampai dengan hobi untuk seringkali menyakiti.

Dalam peta kebahagiaan seperti ini, mungkin bisa dimaklumi kalau seorang mistikus yang bernama Kabir pernah tertawa sambil menyindir, “Aku tertawa, ikan mati kehausan di dalam air.” Cubitan Kabir ini menyentak, karena implisit berarti manusia mencari air di dalam air. Sudah hidup di dalam danau (atau mungkin samudera) yang penuh air berlimpah, namun masih mencari-cari air untuk diminum karena kehausan. Kehidupan itu sendiri sebuah kebahagiaan. Bukankah lahir menjadi manusia adalah sebuah berkah yang mengagumkan, sebuah pintu pertumbuhan yang juga mengagumkan? Dalam bahasa orang sufi, dalam diri manusia Tuhan mengalami pengalaman-pengalaman yang membahagiakan. Dan tertawa Kabir terasa semakin menyengat, terutama di waktu-waktu ketika kita manusia berkejaran, berkejaran, dan berkejaran. Berkejaran dengan target. Berkejaran dengan waktu. Berkejaran dengan teman maupun lawan. Berkejaran dengan keinginan. Berkejaran dengan cita-cita. Berkejaran dengan umur. Tidak ada waktu jeda. Sedikit sekali waktu istirahat dalam hidup. Bahkan ketika tidur pun masih berkejaran di dalam mimpi. Dan seorang penulis kemudian menyentak melalui judul bukunya yang berbunyi: When is enough enough? Kapan cukup itu terasa cukup?

Ini pun menimbulkan perasaan berkejaran kembali. Begitu pertanyaan dimulai dengan kapan, ada urgensi, ada perasaan mau berlari, ada keinginan untuk cepat-cepat sampai. Dan kembali kita meluncur ke dalam keadaan mencari air di dalam air. Dalam kegelapan seperti ini, tentu banyak yang berterima kasih ke seorang guru yang pernah memperkenalkan meditasi langit biru. Idenya teramat sederhana, mudah dicerna, namun teramat mendalam. Apa pun yang sifatnya datang dan pergi ketika meditasi (entah keinginan, rasa bersalah, dll.) hanyalah awan-awan gelap yang mengenal hukum datang dan pergi. Dan semua awan yang datang dan pergi ini berputar dalam siklus. Setelah jadi awan, jadi hujan, kemudian jadi air yang mengalir di sungai, sampai di laut menguap lagi jadi awan. Ada putaran ketidakabadian di sana.

Berbeda dengan awan, langit biru, ya, langit biru. Ada tidak ada awan, langit biru tetap di sana. Ada sinar matahari, tidak ada sinar matahari, langit biru tetap langit biru. Entah siang entah malam, kelihatan maupun tidak kelihatan, langit biru tetap permanen di sana. Ada keabadian di sana. Kecelakaan dan kejar-kejaran dalam hidup yang tidak mengenal henti, hanya dialami oleh manusia-manusia jenis awan. Berputar, berputar, dan berputar bersama keinginan, kemauan, dan cita-cita. Dan meditasi langit biru mengajarkan, belajarlah hanya melihat putaran-putaran awan. Singkatnya menjadi compassionate witness. Seorang saksi yang penuh kasih sayang. Ia mirip dengan seorang kakek yang menunggui cucunya berlari-lari di taman. Senakal apa pun sang cucu, kakek hanya tersenyum penuh pengertian.

Demikian juga dalam keseharian ketika hidup ini dipermainkan keinginan, kekhawatiran, dan ketakutan. Duduklah di kursi kakek yang penuh pengertian, lihat sang cucu (baca: keinginan dan ketakutan, suka dan duka, kematian dan kehidupan) berlari ke sana kemari. Tidak akan ke mana-mana larinya. Seperti awan gelap, hanya berputar-putar berganti bentuk. Dan masih menurut penemu meditasi langit biru, siapa saja yang rajin berlatih menjadi compassionate witness bagi setiap pengalaman keseharian, di sebuah waktu akan sampai dalam kesadaran bahwa dirinya bukan awan, namun langit biru.

Persis seperti langit biru di atas sana: tenang, damai, indah, abadi. Tidak ada yang benar, tidak ada yang salah, tidak ada baik, tidak ada buruk, tidak ada sukses, tidak ada gagal, tidak ada hidup, tidak ada mati. Semua dualitas berhenti bertentangan dan bertabrakan. Ia lebur ke dalam hening. Ini yang disebut oleh Dainin Katagiri dengan returning to silence. Ke mana saja mata memandang yang tersisa hanya satu: keindahan! Seorang sahabat menyebut keadaan ini dengan cosmic orgasm. Semacam orgasme kosmis. Ia mirip dengan film Life is Beautiful yang legendaris itu. Dalam suka dalam duka, dalam keadaan biasa maupun di penjara, yang tersisa hanya satu: bergembira. Bahkan ditembak mati pun hanyalah sebentuk awan yang berganti wajah. Apa pun wajah awannya kemudian, langit biru tetap langit biru. Dan Anda pun tidak perlu mencari air di dalam air.

Gede Prama, Kebahagian yang Membebaskan Menghidupkan Lentera di Dalam Diri, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
The Power of Reward

Ada sebuah kisah nyata tentang seorang penyanyi terkenal di Eropa, yang memiliki suara yang luar biasa. Wanita itu bersuamikan pemain musik, pemain keyboard, dan seorang pengarang lagu. Begitu pandainya sang suami dalam menguasai lagu, nada, birama, tangga nada, dan hal-hal lain di bidang musik sehingga dia selalu menemukan apa yang harus dikoreksi ketika istrinya menyanyi.

Jika istrinya bernyanyi, selalu saja ada komentar dan kritik, seperti bagian depan kurang tinggi, bagian ini kurang pelan, lain kali lagi dia berkata bagian akhir harusnya kres naik sedikit, dan sebagainya. Selalu saja ada komentar pedas yang dia lontarkan saat istrinya menyanyi dan bersenandung. Akhirnya, sang wanita malas menyanyi. Dia berpikir, Wah, nggak usah nyanyi saja deh, apa saja salah terus, nyanyi apa saja ada yang kurang. Enggak usah nyanyi. Kalau nyanyi kadang malah bertengkar.

Singkat cerita, karena suatu musibah, sang suami meninggal dan lama setelah itu, si wanita menikah lagi dengan seorang tukang ledeng. Tukang ledeng itu tidak tahu menahu soal musik. Ia hanya tahu kalau istrinya bersuara bagus dan dia selalu memuji istrinya saat sedang bernyanyi.

Suatu ketika, istrinya bertanya, Pa, bagaimana laguku? Dan si suami berkata kepada istrinya, “Ma, saya ini selalu ingin cepat pulang karena mau mendengar nyanyianmu.

Lain kali dia berkata, Ma, kalau saya tidak menikah denganmu, mungkin saya sudah tuli karena hanya bunyi dentuman, bunyi gergaji, bunyi cericit drat pipa ledeng, gesekan pipa ledeng, dan bunyi pipa lainnya yang saya dengar sepanjang hari kalau sedang bekerja. Sebelum menikah denganmu, saya sering bermimpi dan terngiang-ngiang suara-suara gergaji dan lain-lain yang tidak mengenakkan itu ketika sedang tidur. Setelah menikah dan sering mendengar nyanyianmu, lagumulah yang tergiang-ngiang.

Istrinya sangat bersukacita. Merasa tersanjung karena telah diterima dan dipuji sehingga dia menjadi gemar bernyanyi, bernyanyi, dan bernyanyi. Saat mandi, dia bernyanyi, berlatih dan terus berlatih. Suaminya mendorong dia hingga dia mulai merekam dan mengeluarkan kaset volume pertama, dan ternyata disambut baik oleh masyarakat.

Wanita ini akhirnya menjadi penyanyi terkenal. Dia terkenal bukan saat memiliki suami yang ahli dalam musik, tetapi saat bersuamikan seorang tukang ledeng yang memberikan pujian secara terus menerus ketika dia sedang bernyanyi.

Renungan

Pujian terbukti berpengaruh sangat positif. Pujian menyiratkan penerimaan, memberikan semangat dan dorongan untuk melakukan hal yang baik dan lebih baik lagi.

Pujian menyebabkan seseorang bisa meraih prestasi tertinggi dari yang bisa diraihnya. Omelan, bentakan, kecaman, amarah, atau kritik yang tidak membangun tidak banyak mengubah. Jika disampaikan dengan cara yang tidak benar, akan mengerdilkan semangat dan akhirnya memadamkannya.

Oleh karena itu, marilah kita saling memberikan pujian satu kepada yang lainnya.

Dessy Danarti, Hadiah Terindah 88 Kisah Motivasi dan Inspirasi bagi Sukses Hidup dan Karier, Andi Yogyakarta, 2007.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Sukses yang Membebaskan

Bila ada yang mengatakan kalau kesuksesan adalah sebentuk kutukan, mungkin banyak orang akan mengerutkan alis sebagai tanda tidak percaya. Terutama karena terlalu lama manusia telah dibius kalau kesuksesan adalah sebentuk garis finish kehidupan yang harus dicapai. Kerja keras, belajar keras, mencintai yang keras, semuanya yang serba keras ini dilakukan untuk mencapai kesuksesan. Jumlah saldo di bank yang menggunung, penampilan yang aduhai, nama yang dikenal banyak orang, rumah mewah yang mentereng hanyalah sebagian atribut-atribut kesuksesan yang paling dicari.

Banyak sudah yang dihasilkan oleh pandangan hidup seperti ini. Dari hal-hal mikro seperti keluarga sejahtera, sampai bertumbuhnya ekonomi negara seperti China yang tumbuh demikian mencengangkan. Sukses ternyata tidak saja menjadi energi pribadi, tetapi juga menjadi mesin perekonomian yang bisa menarik gerbong-gerbong perekonomian dalam jumlah banyak. Banyak sudah acungan jempol yang ditujukan pada konsep hidup seperti ini.

Namun sebagaimana wajah kehidupan yang lainnya, sukses juga berwajah ganda. Di satu sisi ia membantu, di lain sisi ia membelenggu. Soal wajah sukses yang membantu, tentu telah banyak diulas dan dibicarakan. Namun soal wajah sukses yang membelenggu, ini yang mulai banyak mengganggu. Perceraian, perselingkuhan, penyakit akibat bekerja terlalu keras, bahkan permusuhan serta peperangan bisa menjadi akibat dari sukses yang membelenggu.

Sebut saja kesombongan sebagai buah sukses. Terlalu banyak orang sukses kemudian diperangkap kesombongan. Dan mudah ditebak apa yang diperoleh manusia setelah diperangkap kesombongan. Kesuksesan telah membuat manusia berbaju ego tebal, menganggap diri paling tinggi serta menempatkan orang lain dalam posisi yang lebih rendah.

Penyakit kelelahan adalah contoh lain. Ada seorang sahabat kaya raya. Yang memperoleh kekayaannya dengan jalan kerja keras. Namun ketika usia menginjak tua, kemudian sakit-sakitan. Dan seluruh kekayaan habis untuk mengongkosi ongkos berobat di Singapura. Bahkan ketika kekayaan habis pun penyakit belum kunjung pergi. Ada juga cerita tentang pria setia yang demikian setianya sama keluarga sampai-sampai harus pulang malam terus dari tempat kerja. Namun begitu jadi orang kaya, kesetiaannya entah pergi ke mana. Kesuksesan harus dia bayar dengan perceraian.

Inilah sekelumit wajah kesuksesan yang memenjara. Sukses (terutama materi) yang dikejar dengan tidak sedikit biaya, dari sekolah yang keras, belajar yang keras, sampai dengan kerja yang keras, bahkan tidak sedikit yang membayarnya dengan harga lebih besar lagi berupa perceraian dan berantakannya rumah tangga, ternyata tidak membebaskan. Sebaliknya malah menjadi penjara-penjara yang menyengsarakan.

Tentu tidak disarankan kalau dari sini banyak sahabat yang takut akan kesuksesan. Tidak disarankan juga menggunakan argumen dalam tulisan ini untuk menghakimi banyak orang sukses. Yang memerlukan perenungan mendalam dalam hal ini, bagaimana membuat sukses yang menelan biaya demikian besar ini bukannya memenjara, sebaliknya malah membuat hidup semakin terbebaskan?

Rute menuju ke sebuah tempat memang tidak pernah satu. Salah satu rute yang layak direnungkan dalam mencapai sukses yang membebaskan adalah dengan mencermati pikiran. Benar pendapat seorang guru bahwa mind is a good servant but a bad master. Sebagai pembantu, pikiran memang pembantu yang amat mengagumkan. Namun sebagai penguasa, pikiran juga yang demikian memenjara. Secara lebih khusus lewat sifat pikiran yang hanya mengerti melalui dualitas. Tidak saja penyakit yang memenjara, sehat juga memenjara. Terutama kalau sehat kemudian berharap selamanya sehat walafiat. Tidak saja derita memerangkap, bahagia juga memerangkap karena kebahagiaan menghadirkan keserakahan untuk tidak mau berganti situasi.

Sukses sebagai hasil olahan pikiran juga serupa. Tidak saja gagal memenjara, sukses juga memerangkap. Terutama karena kesuksesan diikuti oleh keterikatan agar sukses abadi. Sebagai akibatnya, kesuksesan disertai banyak ketakutan. Dan inilah salah satu awal dari sukses yang memenjara.

Seorang guru yang paham dalam akan hal ini pernah memberikan saran sederhana namun mengagumkan, Try not too attach to any thought that arise in your mind! Rupanya keterikatan berlebihan terhadap apa saja yang muncul di pikiran bisa memenjara. Sehingga apa pun gambar yang muncul di pikiran, lebih disarankan untuk berjarak seperlunya. Tidak saja dengan kegagalan perlu berjarak, dengan kesuksesan juga perlu berjarak. Ketika manusia berhasil berjarak terhadap seluruh dualitas (baik-buruk, sukses-gagal, benar-salah, bahagia-sedih, dll.) inilah tanda-tanda terbukanya pintu gerbang kebebasan.

Tidak mudah tentunya, terutama karena manusia telah lama dipenjara pikiran. Diperlukan langkah-langkah pendisiplinan pikiran yang panjang. Dan meditasi adalah salah satu kendaraan penting dalam hal ini. Tugas meditator dalam hal ini, apa saja yang muncul di pikiran (baik-buruk, sukses-gagal, bahagia-derita) disarankan hanya dilihat. Persis seperti melihat gambar-gambar sinetron di televisi. Semuanya berganti terus-menerus. Dan yang melihat bisa berjarak terus tanpa perlu terpengaruh berlebihan. Seorang guru pernah berbisik, Just seeing is your true nature. Siapa saja yang tekun terus-menerus melihat, akan datang waktunya bisa memahami apa yang disebut sebagai sukses yang membebaskan.

Gede Prama, Kebahagian yang Membebaskan Menghidupkan Lentera di Dalam Diri, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
Bawang Bombay Kehidupan

Menjelang istirahat suatu kursus pelatihan, sang pengajar mengajak para peserta untuk melakukan suatu permainan.
“Siapakah orang yang paling penting dalam kehidupan Anda?” Pengajar pun meminta bantuan seorang peserta maju ke depan kelas, dan mulai melakukan permainan itu.

“Silakan tulis 20 nama yang paling dekat dengan kehidupan Anda saat ini!”

Peserta perempuan itu pun menuliskan 20 nama di papan tulis. Ada nama tetangga, teman sekantor, saudara, orang-orang terkasih dan lainnya. Kemudian pengajar itu menyilakan memilih, dengan mencoret satu nama yang dianggap tidak penting. Lalu siswi itu mencoret satu nama, tetangganya.

Selanjutnya pengajar itu menyilakan lagi siswinya mencoret satu nama yang tersisa, dan siswi itu pun melakukannya, sekarang ia mencoret nama teman sekantornya. Begitu seterusnya.

Sampai pada akhirnya di papan tulis hanya tersisa 3 nama. Nama orang tuanya, nama suami serta nama anaknya. Di dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi. Semua peserta pelatihan mengalihkan pandangan ke pengajar. Menebak-nebak apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh pengajar itu. Ataukah, selesai sudah tak ada lagi yang harus di pilih.

Namun di keheningan kelas sang pengajar berkata, “Coret satu lagi!”

Dengan perlahan dan agak ragu siswi itu mengambil spidol dan mencoret satu nama. Nama orangtuanya.

“Silakan coret satu lagi!”

Tampak siswi itu larut dalam permainan ini. Ia gelisah. Ia mengangkat spidolnya tinggi-tinggi dan mencoret nama yang teratas dia tulis sebelumnya. Nama anaknya. Seketika itu pun pecah isak tangis di kelas.

Setelah suasana sedikit tenang, pengajar itu lalu bertanya, “Orang terkasih Anda bukan orangtua dan anak Anda? Orangtua yang melahirkan dan membesarkan Anda. Anda yang melahirkan anak. Sedang suami bisa dicari lagi. Mengapa Anda memilih sosok suami sebagai orang yang paling penting dan sulit dipisahkan?”

Semua mata tertuju pada siswi yang masih berada di depan kelas. Menunggu apa yang hendak dikatakannya. “Waktu akan berlalu, orangtua akan pergi meninggalkan saya. Anak pun demikian. Jika ia telah dewasa dan menikah, ia akan meninggalkan saya juga. Yang benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya,” ucap siswi tersebut.

Kehidupan itu bagaikan bawang bombay. Ketika dikupas selapis demi selapis, akan habis. Dan adakalanya kita dibuat menangis.

Bagi sahabat yang sudah memiliki pasangan hidup (suami/istri, tanpa mengurangi rasa sayang kepada orang-orang terdekat lainnya) semoga pasangan hidup kita tetap menjadi pasangan sejati, yang hanya kematian yang bisa memisahkan.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Mengasah Kemampuan Diri

Seorang penebang mengasah kapaknya untuk mengumpulkan kayu. Seorang pemburu mengasah pisau dan mengencangkan busur. Seorang penulis meraut pensil. Mereka semua harus memperbarui peralatannya. Mereka itu adalah Anda dan saya. Ini adalah prinsip sederhana tentang produktivitas. Tentu, tidak akan banyak pohon yang bisa ditebang oleh kapak yang telah tumpul dan aus. Tidak akan ada buruan yang mampu ditaklukkan oleh busur yang telah renta. Tidak ada sebuah kata bisa tertulis dari pensil yang patah. Maka, apa yang harus kita asah agar tetap meraih kehidupan pribadi dan karier yang penuh dan berlimpah? Anda memiliki sesosok tubuh yang pasti renta terkikis usia. Juga kecerdasan yang segera tak banyak berarti tertinggal kemajuan zaman. Serta sekepal hati nurani yang mudah diburamkan oleh debu-debu dunia. Maka tiada yang patut kita rawat selain tubuh agar senantiasa menjadi rumah yang nyaman bagi jiwa. Tiada yang perlu kita asah selain pikiran dan ketrampilan agar selalu dapat digunakan untuk membuka pintu kemakmuran. Serta, tiada yang harus kita pertajam selain hati nurani yang memungkinkan kita mendengar nyanyian kebahagiaan hidup ini.

No Comments Posted in Pandangan Hidup