Dunia Memberi Apa yang Kita Fokuskan

Bila Anda memandang diri Anda kecil, dunia akan tampak sempit, dan tindakan Anda pun jadi kerdil.

Namun bila Anda memandang diri Anda besar, dunia terlihat luas, Anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga.

Tindakan Anda adalah cermin bagaimana Anda melihat dunia. Sementara dunia Anda tak lebih luas dari pikiran Anda tentang diri Anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita.

Padahal dunia tidak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.

Maka bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Melampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan dunia pun menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Peta Impian

Impian akan mengarahkan kita ke mana akan melangkah, bagaimana akan berbuat dan bersikap. Dengan impian kita akan tahu di mana titik akhir dari perjuangan. Dan segera setelah mencapai impian itu, kita dapat menggantikannya dengan impian lain yang belum tercapai.

Sahabat, dalam meraih impian, kita perlu strategi dan peta. Sehingga saat berjalan dan bertemu dengan hambatan, kita dapat memilih untuk melompatinya ataukah memutarinya dan mengambil jalan lain. Tanpa mengubah impian, hanya mengubah arah jalan saja.

Bayangkan Anda berada di tengah samudra di atas sebuah speedboat. Lima puluh kilometer di depan Anda adalah sebuah pulau, dan di pulau itu terdapat semua yang Anda inginkan dan cita-citakan. Semua impian Anda. Dan satu-satunya cara untuk mendapatkan itu semua adalah sampai ke pulau tersebut. Pulau itu ada di belakang cakrawala. Tapi cakrawala yang mana?

Masalahnya adalah Anda tidak punya kompas, peta, radio, telepon, dan Anda tidak tahu mana arah ke pulau tersebut. Arah yang salah akan membuat Anda melenceng jauh sekali dari pulau impian, sementara di sekeliling Anda yang terlihat cuma laut dan langit.

Dalam dua jam, Anda bisa saja telah sampai di pulau impian. Tetapi bila Anda salah arah – Anda bisa kehabisan bahan bakar sebelum bisa mencapai pulau impian.

Hidup tanpa tujuan yang jelas, tanpa mengetahui dan mengerti kegunaan hidup Anda – adalah sama dengan dilema pulau impian. Semua impian Anda sebenarnya bisa tercapai, namun untuk mencapainya Anda harus mengetahui peta impian. Yaitu apa, di mana, dan bagaimana mencapainya. Anda mutlak mengetahui arah untuk mencapainya. Tentukan peta Anda sekarang – untuk dapat mencapai impian Anda. Buat seteliti dan seakurat mungkin – dan selanjutnya Anda tinggal mengarahkan speedboat Anda ke pulau impian… Untuk selanjutnya, Anda meraihnya, merengkuhnya, dan tersenyum dengan bangga, “Inilah impianku, dan aku telah mendapatkannya.”

Sahabat, berhentilah sejenak dan mari kita saling mendoakan, doa untuk sahabat kita, orangtua kita, orang yang kita cintai. Semoga  peta menuju impian hidup yang kita rancang, diridhoi Allah SWT. Kita sadari tubuh kita, nyawa kita dan napas kita, sepenuhnya adalah milik-Nya. Tiada satu pun peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita, tanpa ridho-Nya. Selamat berjuang sahabat.  Impian itu, sudah rindu untuk kita rengkuh, dan kita peluk.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Anda Berharga di Mata Tuhan

Ada seorang laki-laki, di mana setiap orang yang melihat fisiknya pasti setuju bahwa ia bukanlah laki-laki yang menarik. Badannya gemuk dan tingginya berada di bawah rata-rata. Wajahnya pun tidak tampan. Ia bukanlah orang yang kaya raya, juga bukan orang yang memiliki kepandaian khusus.

Jalannya agak pincang, dan suaranya pun sumbang. Sebut saja namanya Milo. Sehari-hari ia bekerja sebagai pegawai sebuah toko buku dengan gaji yang tidak seberapa. Milo sudah hampir berumur 40 tahun, ia kadang merasa frustasi karena belum memiliki pacar hingga kini. Kadang-kadang ia merasa Tuhan tidak adil dengan menciptakan dirinya seperti itu. Tidak ada wanita-wanita yang mengelilingi karena mengaguminya, tidak ada kelimpahan harta padanya, atau orang-orang yang memuji karena kehebatannya.

Suatu ketika, pulang dari tempat bekerja dan melewati lorong yang gelap, seorang pria tinggi besar menghadangnya. Wajahnya tidak terlihat jelas karena gelapnya malam. Pria itu menodongkan sebuah pisau ke dadanya, “Serahkan uangmu kalau mau selamat,” ujarnya dengan suara berat.

“Anda menginginkan uang saya? Ambillah semuanya,” katanya dengan tenang. Milo membiarkan pria itu mengambil uangnya, diserahkannya semua uang ke tangan si penodong. Sikap Milo tampak tenang sekali.

“Anda tidak takut kalau aku membunuhmu di sini?” tanya pria itu.

“Oh, tentu tidak. Tidak ada yang berharga pada diriku. Sekalipun harus memberikan nyawaku, aku tidak takut,” ujarnya dengan tenang.

Menghadapi sikapnya yang tenang, pria itu semakin penasaran dan pelan-pelan menurunkan pisaunya.

“Anda tidak takut mati?” tanya pria itu lagi.

“Saya tidak takut mati, saya tidak memiliki apa pun di dunia ini. Saya milik Tuhan. Jika Anda membunuh saya, maka Anda mengembalikan saya kepada Tuhan.”

“Anda percaya Tuhan?” tanya pria itu.

“Tentu saja. Bagaimana denganmu?” tanya Milo.

Pria itu akhirnya memperkenalkan diri. Milo lalu mengajaknya duduk di sebuah anak tangga dari toko yang telah tutup.

“Aku seorang preman, aku pernah membunuh belasan nyawa. Dahulu, aku orang yang sangat percaya kepada Tuhan. Ayahku sering sekali memukul ibuku dan juga saudaraku. Ia sering mabuk dan aku pernah hampir dibunuhnya. Selain itu, ia tidak punya pekerjaan. Tekanan hidup menjadikan aku seperti ini.” Lanjutnya lagi, “Baru kali ini aku menemui orang yang tidak takut padaku,” ujarnya.

Tiba-tiba air mata meleleh dari kedua pipinya, “seumur hidupku baru pertama kali aku menangis. Aku tidak tahu kenapa, aku seperti orang bodoh yang menangis di hadapanmu.” Kasih Tuhan terus bersinar pada malam itu.

“Kamu pasti lapar, aku punya makanan untukmu,” ujar Milo sambil mengeluarkan roti dari tasnya dan memberikannya padanya.

“Aku melihat ada suatu kekuatan yang begitu kuat keluar dari dirimu, menarik aku kembali pada suatu tempat di mana aku dulu pernah berada.”

Pria itu adalah orang yang paling ditakuti di tempat tersebut, reputasinya sebagai pembunuh belum ada tandingannya.

Bagaimana mungkin orang seperti Milo bisa membuat hatinya luluh? Malam itu ia bertobat, dan apa yang terjadi? Banyak dari anak buahnya yang akhirnya bertobat dan kembali pada jalan kebenaran.

Renungan

Pernahkah Anda merasa tidak berharga? Tidak punya kelebihan apa-apa. Anda merasa fisik Anda tidak menarik, Anda juga merasa tidak punya harta yang bisa diberikan. Tuhan tidak pernah menciptakan kita tanpa maksud. Anda mungkin berkata, “Tuhan, apakah saya yang seperti ini bisa dapat jodoh? Apa saya layak melayani-Mu? Apa saya bisa berhasil?” Semuanya mungkin bagi Tuhan. Pernahkah Anda membanding-bandingkan diri Anda dengan kelebihan orang lain, lalu Anda merasa minder?

Bagaimanapun keadaan kita, Tuhan begitu memedulikan kita. Sekalipun Anda hanyalah seorang penyapu halaman rumah ibadah, Anda tetap seorang yang hebat di mata Tuhan. Jangan pernah bersedih hati. Kalau Anda memiliki cacat fisik, jangan putus asa bila orang tidak menganggap keberadaan Anda. Anda sama berharganya dengan ciptaan-Nya yang lain.

Ketahuilah, kita semua begitu berharga di mata-Nya sehingga Ia tidak ingin kehilangan kita.

Dessy Danarti, Hadiah Terindah 88 Kisah Motivasi dan Inspirasi bagi Sukses Hidup dan Karier, Penerbit Andi Yogyakarta, 2007

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Cangkir yang Cantik

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. “Lihat cangkir  itu,” kata si nenek kepada suaminya. “Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara, “Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop! Stop! Aku berteriak, tetapi orang itu berkata belum!. Lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas! Panas! Teriakku dengan keras. Stop! Cukup! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata “belum!”. Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop! Stop! Aku berteriak. Wanita itu berkata belum! Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong! Hentikan penyiksaan ini! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas menyiksaku kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

***

Sahabat, dalam kehidupan ini adakalanya kita seperti disuruh berlari, ada kalanya kita seperti digencet permasalahan kehidupan. Tapi sadarlah bahwa lakon-lakon itu merupakan cara Tuhan untuk membuat kita kuat. Hingga cita-cita kita tercapai. Memang pada saat itu tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan.

Sahabat, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena akhir dari apa yang sedang Anda hadapi adalah kenyataan bahwa Anda lebih baik dan makin cantik dalam kehidupan ini.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Cerita-cerita Air Mata

Ada sahabat yang bertanya, “Ketika terlihat ada wanita yang menitikkan air mata di pinggir jalan, apakah itu berita baik atau buruk?” Tentu susah menjawabnya hanya dengan melihat linangan air mata saja. Karena air mata adalah tanda-tanda dari banyak sekali situasi emosi di dalam. Ada yang menjadi representasi rasa sedih yang mendalam. Ada juga yang menjadi wakil dari rasa syukur yang mendalam. Ada yang bahkan berani meng-claim sebagai terbukanya pintu jiwa terhadap jiwa yang lebih besar. Dan tentu saja tidak ada yang melarang untuk berargumentasi apa saja tentang air mata. Entah benar entah salah, ada juga sahabat yang berani menyebutkan kalau air mata adalah tanda-tanda kedangkalan. Bukankah dengan keluarnya air mata berarti ada bagian-bagian tertentu dari dinding emosi yang terlalu peka? Ada yang bertukar sebaliknya. Air mata adalah cermin kedalaman. Bukankah hanya kedalaman yang bisa melampaui logika kemudian berlinang air mata?

Entahlah, yang jelas demikianlah manusia. Teramat suka untuk menerangkan dan menjelaskan. Seolah-olah hanya dengan keterangan dan penjelasan saja perjalanan hidup bisa membahagiakan. Di luar keterangan dan penjelasan yang ada hanya ruang gelap yang membahayakan. Kalau memang logika manusia bisa menjelaskan semuanya, mungkin manusia tidak perlu lagi bertanya dan mencari. Kita semua cukup membuka album-album jawaban dalam sejarah manusia yang cukup panjang. Kalau ruang-ruang terang kehidupan pasti menjamin kepastian hidup bahagia, tentu semua filsuf mengakhiri hidupnya dengan bahagia.

Seorang guru pernah bertutur jernih tentang percakapan dua orang yang kedalaman ilmunya berbeda. Di tengah danau yang indah, seorang ilmuwan bercerita bangga tentang ilmunya kepada pengayuh perahu yang buta huruf. Semua buku telah ia baca. Semua ilmu sudah dijelajahi. Sejumlah tempat telah dikunjungi. Sehingga ilmuwan ini menantang pengayuh perahu ini untuk bertanya apa saja dan dijamin ia pasti bisa menjawabnya. Dengan polos pengayuh perahu ini bertanya tentang ilmu berenang. Dan dengan enteng dijawab strategi berenang yang baik harus begini dan begitu. Namun tiba-tiba ada angin berembus kencang dan membalikkan perahu. Kedua-duanya jatuh dari perahu, dan dengan sangat ketakutan ilmuwan tadi berteriak minta diselamatkan.

Inilah yang disebut swimologi. Belajar berenang hanya dengan melihat-lihat gambar orang berenang. Dan tidak ada satu perenang pun bisa berenang baik hanya dengan melihat gambar. Hal serupa juga terjadi dengan air mata. Airnya serupa. Keluarnya sama-sama dari mata manusia. Bahkan bisa jadi terjadi di tubuh manusia yang juga sama. Namun, pengalaman batin di dalam tentu saja berbeda. Ketika kita menangis meminta mainan di masa kanak-kanak, tentu keluar air mata. Tatkala mengalami kesedihan mendalam seperti kehilangan orangtua misalnya, tentu keluar air mata. Manakala jiwa ini berjalan jauh di jalan-jalan Tuhan, tentu keluar air mata. Namun ketiga-tiganya mewakili tiga hal yang amat berbeda di dalam. Sehingga menimbulkan pertanyaan, “Apa itu air mata?”

Dan penekun biologi tentu punya jawaban. Demikian juga dengan penekun emosi. Dan ada yang berpendapat lain. Thomas Merton dalam Dialogues with Silence bertutur sederhana: “The darkness is enough”. Bila penekun biologi, emosi dan lain-lain hanya suka hal-hal yang jelas dan terang, Merton berucap kalau kegelapan pun sudah cukup. Tentu kegelapan ala Merton bukan sembarang kegelapan. Buka kegelapan yang tidak didahului oleh bertumbuh dewasanya jiwa manusia. Bukan kegelapan yang disinari cahaya-cahaya frustasi. Bahkan ada yang mengatakannya serba bukan. Sehingga lidah manusia kehilangan kata-kata untuk menerangkannya.

Coba perhatikan apa yang ditulis Thomas Merton dalam karya jernih sekaligus bening ini, I am made your peace I will not wound myself anymore with details with which I have surrounded myself like thorns. Diri ini terbuat hanya dari roh kedamaian. Biarlah ia tidak lagi terluka oleh rincian-rincian penjelasan yang demikian berduri. Tidak sembarang perjalanan bisa sampai di tingkat kedewasaan ini, tentu mudah dimaklumi kalau kegelapan pun berani diberi judul cukup.

Lain Merton lain lagi kata seorang sahabat. Perjalanan ke dalam, serupa dengan mengupas bawang merah. Di setiap tingkatan warnanya berbeda. Ada yang menyebut merah, merah keputih-putihan, putih kemerah-merahan sampai dengan putih. Dan tentu tidak dilarang untuk berdebat. Namun bagi siapa saja yang sudah mengupasnya secara tuntas, ia kehilangan kata-kata. Hanya tersisa air mata. Setiap kata-kata tidak saja gagal menjelaskan, namun juga mudah sekali melukai. Sehingga bisa dimaklumi, kalau dalam salah satu penggal perjalanan hidup Rumi tersisa sebuah cerita menyentuh. Di sebuah waktu di malam musim dingin yang pekat, Rumi hanya mengenal berdoa, berdoa, dan berdoa. Dalam kedalaman doa, ia berurai air mata. Dan ketika pagi menjelang, yang tersisa hanya seorang pendoa yang kumis dan janggutnya sudah membeku jadi es. Adakah yang bisa menemukan cerita air mata berguna di sana?

Gede Prama, Kebahagiaan yang Membebaskan Menghidupkan Lentera di dalam Diri, PT Gramedia Pustaka umum, 2006

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
Pelayanan yang Mencerahkan

Suatu kali Nasruddin mengunjungi putranya yang sudah menikah. Di hari ketika ia datang berjanji kalau hanya menginap tiga hari. Ternyata pelayanan menantunya luar biasa. Puas dengan pelayanan seperti ini, ia perpanjang waktu tinggalnya jadi seminggu. Setelah seminggu berlalu, ditambah jadi sebulan. Begitu sebulan berlalu ditambah jadi dua bulan. Dan tentu pasangan muda ini mulai kegerahan. Maka diaturlah taktik agar Nasruddin segera pulang. Kedua pengantin ini sepakat untuk pura-pura berkelahi di depan Nasruddin ketika makan pagi. Suaminya akan memulai dengan mengatakan sop pagi itu terlalu banyak garam. Istrinya membantah dengan kekurangan garam. Diharapkan Nasruddin jadi penengah. Siapa saja yang dibela Nasruddin diperbolehkan menampar pipi sebagai awal sandiwara.

Begitu di depan meja makan, dimulailah sandiwara halus ini. Putra Nasruddin marah-marah sambil mengumpat kalau sopnya terlalu asin. Istrinya tidak mau kalah galaknya, dengan suara lebih tinggi menyebut masih perlu ditambah garam. Dan datanglah Nasruddin, sambil mencicipi sop Nasruddin berucap tenang, “Rasa sopnya sudah sempurna!” Dan buyarlah seluruh sandiwara ini.

Mau tertawa mau tidak urusan masing-masing. Yang jelas, demikianlah dunia pelayanan pada umumnya. Dalam bahasa sahabat Betawi: anget-anget tai kotok. Hanya sempurna di awalnya saja. Begitu waktu berlalu, semua yang tadinya hangat jadi dingin menyakiti. Ini tidak saja menjadi penyakit birokrasi, juga penyakit banyak organisasi. Sehingga menimbulkan pertanyaan, “Kenapa pelayanan banyak organisasi demikian dangkal dan permukaan?”

Di tengah kegundahan akan pertanyaan ini, seorang sahabat pernah bertutur di sebuah perjalanan kalau komitmen itu tidak satu spesies. Komitmen yang paling tidak bisa dipegang adalah political commitment. Pagi ini setuju, sebentar siang bisa berubah. Dan ada saja alasan yang digunakan sebagai pembenaran. Komitmen berikutnya adalah gentleman commitment. Kesepakatan sebagai orang dewasa. Tidak ada aturan tertulisnya yang tegas. Dan terpulang pada kemampuan seseorang dalam menindaklanjuti kedewasaan masing-masing.

Di atas komitmen orang dewasa ini ada emotional commitment. Komit karena ada keterikatan emosional. Seorang sahabat pernah bertutur, “Tidak mungkin ingkar janji dengan orang itu karena mereka sekeluarga pernah berutang budi. Atau, tidak mungkin mengkhianati orang yang sudah banyak berbuat baik dalam waktu yang demikian lama. Dan puncak komitmen adalah spiritual commitment, yang pertanggungjawabannya bukan pada manusia, melainkan pada Tuhan.

Dalam peta komitmen seperti ini, tentu bisa dimaklumi kalau timbul pertanyaan penuh keraguan tentang komitmen pelayanan. Memang belum terdengar ada riset tentang peta pelayanan ala empat spesies komitmen ini. Namun membaca bocoran penelitian di negara lebih maju, masih amat langka ada birokrasi dan organisasi yang komitmen mayoritasnya sampai di tingkat emosional apalagi spiritual. Sampai di tingkat orang dewasa saja sudah dianggap mengagumkan.

Oleh karena titular, mulai ada banyak sekali upaya untuk mendongkrak tinggi-tinggi komitmen pelayanan. Berbagai macam cara yang sudah ditempuh. Dari hal-hal luar seperti gaji dan fasilitas, sampai dengan hal-hal dalam seperti inner journey. Dan jalan mana pun yang ditempuh tetap tidak bisa diingkari kalau manusia memiliki unsur kebinatangan (nafsu membunuh dan menyakiti), sekaligus unsur kesucian (keinginan untuk lebih mulia dari binatang sekaligus manusia kebanyakan). Sehingga manusia kebanyakan umumnya berada dalam tarik-menarik di antara kedua kutub ini. Badan lengkap dengan hawa nafsunya menarik manusia ke arah binatang. Jiwa lengkap dengan kendaraan agamanya menariknya ke sisi yang lain. Dan mudah disaksikan perwajahan kehidupan manusia yang terombang-ambing di sana-sini. Sekaligus memberikan warna dominan pada tataran komitmen yang perlu ditingkatkan.

Dari sinilah kemudian banyak guru berpikir tentang titik pusat yang bisa membuat manusia mengurangi guncangan-guncangan yang tidak perlu. Ada yang menyebut cinta sebagai titik pusat. Ada yang menyebut hening sebagai titik pusat. Ada lagi yang menyebut Tuhan sebagai titik pusat. Dan tentu boleh-boleh saja orang berargumen. Namun ada sahabat yang menyebut pelayanan sebagai titik pusat. Tentu bukan sembarang pelayanan.

Pelayanan yang hanya berwajah luar (seperti didorong oleh uang), memang mudah terguncang. Ada uang tenang, tidak ada uang berguncang. Sedangkan pelayanan yang berakar jauh ke dalam, tentu saja seperti akar yang sebenarnya. Setiap akar bertumbuh semakin dalam justru di tempat yang gelap. Pelayanan dari dalam juga serupa. Tidak jelas, tidak terang dan bahkan gelap sekali apa yang terjadi kemudian dalam dunia pasca pelayanan. Seorang pramugari yang di tengah malam melihat penumpang tidak bisa tidur, kemudian didekati tentang apa yang bisa dibantu, ternyata berbuntut tidak enak: sexual harrasment. Seorang bawahan yang melayani atasan tanpa pernah berhitung, dibicarakan di sana-sini dengan sebutan cari muka.

Dan tentu masih bisa diperpanjang kisah-kisah sejenis. Namun segelap dan setidak enak apa pun pengalamannya, serupa dengan akar, pelayanan seperti ini justru semakin bertumbuh, bertumbuh, dan bertumbuh. Seperti pohon, akankah pertumbuhan akar menghasilkan bunga atau tidak, akar tidak pernah bertanya? Ia hanya mengenal berjalan ke tempat yang lebih gelap tidak peduli di mana ujungnya. Bukankah dalam perjalanan letak kebahagiaan yang paling membahagiakan? Demikian seorang pelayan pernah bertanya. Entahlah, namun seorang sahabat pernah menyimpulkan, “Inilah pelayanan yang mencerahkan. Pelayanan yang dilakukan karena alasan sederhana: dalam pelayananlah letaknya kebahagiaan.

Sumber: Gede Prama, Kebahagiaan yang Membebaskan “Menghidupkan Lentera di dalam Diri, PT Gramedia Pustaka Umum, 2006

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
Negara Langka Cahaya

Seorang sahabat pernah melakukan penelitian informal tentang kata apa yang paling sering digunakan masyarakat pasca kejatuhan orde baru. Tanpa mempertanggungjawabkan metodologinya, di mana ia mengambil sample-nya, serta persyaratan riset formal lainnya, ia sampai pada kesimpulan sederhana: “Aduh!” KataAduh telah menjadi ungkapan tidak sadar masyarakat dalam menanggapi banyak keadaan di masyarakat. Harga bahan bakar minyak meningkat pesat, Aduh! Lembaga tertinggi hukum Mahkamah Agung diberitakan dibelit skandal, Aduh! Penyaluran kompensasi kenaikan bahan bakar untuk rakyat miskin memakan nyawa, Aduh! Bom meledak lagi di Bali, Aduh! Ada berita di televisi kalau sahabat di tingkatan bawah mulai belajar meminum air mentah karena minyak tanah tidak terbeli, Aduh! Aduh, aduh, dan aduh.

Setiap sahabat yang pernah mempelajari alam bawah sadar tahu, kalau salah satu indikator apa yang terjadi di kedalaman bawah sadar sana salah satunya bisa dilihat melalui apa yang terungkap melalui keseleo lidah (slip of the tongue). Dan kata aduh adalah salah satu kata yang terungkap dengan mudahnya ke permukaan, di benak tidak sedikit orang. Ia memang bisa menjadi cermin dari banyak sekali hal. Namun susah mengingkari kenyataan, kalau ini adalah cerminan dari tantangan hidup yang tidak ringan.

Mudah-mudahan ini tidak merembet ke mana-mana. Karena rembesan persoalan seperti ini mudah sekali tergelincir ke dalam anarki-anarki yang berbahaya. Dan setelah melihat respon masyarakat terhadap sejumlah tragedi seperti bom Bali II yang diikuti oleh waktu berduka yang jauh lebih pendek, semangat pulih kembali yang jauh lebih tinggi, tampaknya ada tanda-tanda kuat kalau kita sebagai bangsa sedang bertumbuh meyakinkan menjadi semakin dewasa. Seperti sebuah pepatah tua: “Bad weather makes good timber. Cuaca buruk hanya menyisakan pohon-pohon dengan kualitas yang mengagumkan. Demikian juga dengan bangsa ini. Tidak terhitung jumlahnya bencana, petaka, cobaan. Dan hanya persoalan waktu, setelah semua ini berkurang (atau malah berlalu), yang tersisa adalah sekumpulan hidup dan kehidupan yang kokoh mengagumkan.

Mendengar cerita seperti ini, seorang sahabat bertanya sederhana, Kalau demikian ceritanya berarti rakyat lebih kenyal dibandingkan pemerintah? Bukankah seyogyanya pemerintah malu pada rakyat? Tidak mudah menjawabnya. Terutama di zaman di mana kebanyakan berita menempatkan pemerintah sebagai satu-satunya terdakwa dari setiap kesalahan. Virus flu burung merebak, pemerintah dianggap kurang cepat tanggap. Kenaikkan BBM meroket, pemerintah dituduh hanya mementingkan diri sendiri. Korupsi belum terberantas secara rapi, pemerintah disebut tidak serius. Jadi terdakwa lagi, jadi terdakwa lagi. Sekali lagi tidak mudah jadi pemerintah di zaman seperti ini.

Coba hitung sendiri berapa tokoh yang demikian kokoh ketika di luar birokrasi, namun setelah dicoba jadi presiden, menteri, dan jabatan tinggi lainnya, tetapi toh harus meninggalkan kursi kekuasaan tidak sebagai pemenang keadaan. Sebagian malah jelas-jelas keluar sebagai pecundang keadaan. Menyalahkan, mengkritik, memojokkan dengan kata-kata itu mudah. Namun menunjukkan ke orang kalau kita bisa menangani keadaan melalui kinerja-kinerja yang nyata, sungguh bukan sebuah tantangan yang sederhana.

Di tengah tantangan yang tidak sederhana ini, banyak yang sependapat kalau krisis mana pun seperti berjalan di terowongan gelap. Setiap arah yang ditempuh diikuti keragu-raguan yang mendalam. Apalagi Indonesia, terowongannya tidak saja meragukan tetapi juga panjang. Dan logika paling sederhana mengajarkan, kegelapan hanya bisa diusir dengan menghidupkan lentera (baca: cahaya). Pertanyaannya kemudian, apa yang bisa menjadi lentera di zaman yang serba gelap ini? Ada yang menjawabnya dengan keteladanan. Ada yang membisikkan kata doa. Ada juga yang penuh keyakinan menyebut jalan-jalan kerja.

Keteladanan memang sejenis cahaya. Dan keteladanan yang diwariskan pendahulu kita bisa menjadi lentera-lentera berguna. Sebutlah proklamator Soekarno-Hatta, kedua-duanya menjadi lentera-lentera yang berbeda. Bila tampil agak high profile, berani banyak bicara bilamana perlu menantang orang, jadilah kehidupan menyerupai Bung Karno. Jika muncul sedikit low profile, sedikit bicara banyak bekerja, ikhlas di depan kehidupan,maka kehidupan bergerak mirip-mirip Bung Hatta. Doa adalah lentera yang lain lagi. Terlalu kecil sekaligus terlalu terbatas kemampuan kata-kata dan logika manusia dalam menerangkan kedalaman doa. Sejumlah pendoa yang amat mengagumkan (sebutlah salah satu contoh yang paling dikagumi pernah bernama Jalalludin Rumi atau Santo Franciscus) bahkan mengisi akhir-akhir hidupnya dengan lebih banyak diam. Seperti sedang menunjukkan doa itu terlalu besar cahayanya untuk bisa dimengerti logika dan kata-kata manusia. Begitu ia bisa diungkapkan (apalagi penuh dengan ego) maka cahayanya pun semakin redup. Bukan cahaya doanya yang meredup, namun karena kaca pemantulnya yang kotor berdebu. Makanya, dalam salah satu buku suci pernah ditulis jernih: Be still and know that I am God“. Hanya dalam hening dan sepi, cahaya maha sempurna itu bisa demikian menerangi. Mendengar jawaban seperti ini, seorang anak muda bertanya, “Kalau demikian wacana manusia cenderung memperpanjang kegelapan dibandingkan membukakan cahaya terang kejernihan? Ah, kata-kata dan logika lagi yang muncul.

Jalan-jalan kerja ini juga sebuah lentera. Sebagaimana diyakini banyak sahabat, kerja adalah bentuk doa yang paling nyata. Melalui kerja tangan-tangan Tuhan menjadi terlihat oleh mata manusia. Sebutlah seorang ayah yang berdosa bisa menyekolahkan putranya. Doa itu dijawab nyata melalui kerja. Atau doa seorang Ibu agar putrinya cepat dapat kerja. Ini juga menjadi nyata melalui kerja. Lentera kerja bertutur nyata ke kita, kalau mau keluar dari kegelapan wujudkan kesempurnaan Tuhan di jalan-jalan kerja. Entah Anda wartawan, hartawan, birokrat, orang biasa, ibu rumah tangga, secara bersama-sama kita bisa menghidupkan lentera untuk negara di jalan yang sama: kerja!

Sumber: Gede Prama, Kebahagiaan yang Membebaskan “Menghidupkan Lentera di dalam Diri, PT Gramedia Pustaka Umum, 2006

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
Sengsara Membawa Nikmat

Semakin dalam duka menggoreskan luka ke dalam sukma maka semakin mampu Sang Kalbu mewadahi bahagia

(Kahlil Gibran)

Banyak penderitaan yang kita jumpai di rumah sakit, karena memang rumah sakit penghuninya sebagian besar orang sakit. Hanya saja diantara orang sakit tersebut tidak semua berduka. Yang betul-betul sakitnya serius tentu mengkhawatirkan dan membuat keluarganya bersedih hati. Tetapi ada pula duka yang sudah berganti dengan suka karena sudah tersembuhkan penyakitnya. Dan ada lagi yang lebih gembira sebab penderitaan selama 9 bulan sudah tergantikan dengan sosok mungil seorang bayi. Memang semua itu harus diterima dengan ikhlas sebab sedih dan gembira datangnya dari yang memiliki kita, hanya bagaimana kita menghadapi semua problem yang ada. Dan yang lebih penting lagi manusia seyogyanya berusaha walau tidak boleh lepas dari kata pasrah. Sebab hidup adalah perjuangan yang harus dilewati dengan hembusan napas ridho dan syukur serta selalu penuh harapan.

Terlebih jika mampu mengamalkan sebuah hadist:

Apabila ditimpa musibah kita bersabar, apabila didzolimi kita memaafkan serta apabila diberi nikmat kita bersyukur, maka sesungguhnya itulah orang-orang yang mendapat petunjuk Allah.

Penulis berjumpa dengan seorang pengangkut sampah. Tampaknya pekerjaan ini adalah termasuk pekerjaan rendah dan kotor padahal sebetulnya termasuk pekerjaan mulia, karena tanpa mereka tidak bisa dibayangkan bagaimana kotornya lingkungan ini. Mendorong gerobaknya… dengan peluhnya bercucuran tanpa rasa rendah diri di tengah ramainya simpang siur kendaraan bermotor. Sesudah tugasnya selesai, tetap dengan baju kuning seragamnya duduk di bawah pohon di dekat TPA menyantap bekalnya. Tidak tampak susah dan tanpa beban kecuali ada kepuasan dan kenikmatan tersendiri.

Padahal pernah penulis datang ke sebuah undangan mewah. Suasana tempat yang sangat bersih dan indah… tentunya. Terlihat seorang kaya namun terlihat tidak dapat menikmati suguhan-suguhan tersebut, mengingat banyaknya makanan yang harus dihindarinya sehubungan dengan penyakit yang dideritanya… Hidup saja kok susah…

Di sinilah tampak ternyata dari kesengsaraanlah timbul kenikmatan. Karena dengan kesabaran dan ketenangan dia menemukan kesenangan dan bukan dengan kesenangan untuk menemukan ketenangan.

Kata ulama:

Keindahan kemiskinan adalah sabar

Keindahan kekayaan adalah bersyukur

Sumber: Rien Samudayati, Bunga Rampai Kehidupan, Bayumedia Publishing, 2007

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
Batu Ruby Yang Retak

Alkisah, di sebuah kerajaan, raja memiliki sebuah batu rubi yang sangat indah. Raja sangat menyayangi, mengaguminya, dan berpuas hati karena merasa memiliki sesuatu yang indah dan berharga. Saat permaisuri akan melangsungkan ulang tahunnya, raja ingin memberikan hadiah batu rubi itu kepada istri tercintanya. Tetapi saat batu itu dikeluarkan dari tempat penyimpanan, terjadi kecelakaan sehingga batu itu terjatuh dan tergores retak cukup dalam.

Raja sangat kecewa dan bersedih. Dipanggillah para ahli batu-batu berharga untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Beberapa ahli permata telah datang ke kerajaan, tetapi mereka menyatakan tidak sanggup memperbaiki batu berharga tersebut.

“Mohon ampun, Baginda. Goresan retak di batu ini tidak mungkin bisa diperbaiki. Kami tidak sanggup mengembalikannya seperti keadaan semula.”

Kemudian sang baginda memutuskan mengadakan sayembara, mengundang seluruh ahli permata di negeri itu yang mungkin waktu itu terlewatkan.

Tidak lama kemudian datanglah ke istana seorang setengah tua berbadan bongkok dan berbaju lusuh, mengaku sebagai ahli permata. Melihat penampilannya yang tidak meyakinkan, para prajurit menertawakan dia dan berusaha mengusirnya. Mendengar keributan, sang raja memerintahkan untuk menghadap.

“Ampun Baginda. Mendengar kesedihan Baginda karena kerusakan batu rubi kesayangan Baginda, perkenankanlah hamba untuk melihat dan mencoba memperbaikinya.”

“Baiklah, niat baikmu aku kabulkan,” kata baginda sambil memberikan batu tersebut.

Setelah melihat dengan seksama, sambil menghela napas, si tamu berkata, “Saya tidak bisa mengembalikan batu ini seperti keadaan semula, tetapi bila diperkenankan, saya akan membuat batu rubi retak ini menjadi lebih indah.”

Walaupun sang raja meragukan, tetapi karena putus asa tidak ada yang bisa dilakukan lagi dengan batu rubi itu, raja akhirnya setuju. Maka, ahli permata itupun mulai memotong dan menggosok.

Beberapa hari kemudian, dia menghadap raja. Dan ternyata batu permata rubi yang retak telah dia pahat menjadi bunga mawar yang sangat indah. Baginda sangat gembira, “Terima kasih rakyatku. Bunga mawar adalah bunga kesukaan permaisuri, sungguh cocok sebagai hadiah.”

Si ahli permata pun pulang dengan gembira. Bukan karena besarnya hadiah yang dia terima, tetapi lebih dari itu. Karena dia telah membuat raja yang dicintainya berbahagia.

Netter yang luar biasa. Di tangan seorang yang ahli, benda cacat bisa diubah menjadi lebih indah dengan cara menambah nilai lebih yang diciptakannya. Apalagi mengerjakannya dengan penuh ketulusan dan perasaan cinta untuk membahagiakan orang lain.

TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA DI DUNIA INI

Shi Shang Mei You Shi Quan Shi Mei De Ren

Saya kira demikian pula bagi manusia, tidak ada yang sempurna, selalu ada kelemahan besar ataupun kecil. Tetapi jika kita memiliki kesadaran dan tekad untuk mengubahnya, maka kita bisa mengurangi kelemahan-kelemahan yang ada sekaligus mengembangkan kelebihan-kelebihan yang kita miliki sehingga keahlian dan karakter positif akan terbangun. Dengan terciptanya perubahan-perubahan positif tentu itu merupakan kekuatan pendorong yang akan membawa kita pada kehidupan yang lebih sukses dan bernilai!

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Kijang Emas

Ini adalah sebuah cerita yang berjudul Kijang Emas. Ada banyak cerita mengenai emas di dalam sini (Guru menunjuk pada buku yang Ia baca), tetapi saya hanya mengambil yang satu ini. Saya tidak tahu mengapa; mungkin saya suka kijang. Ini adalah cerita dari salah satu kehidupan lampau Sang Buddha. Saat Anda mendengar apa saja mengenai emas, itu menunjuk pada Sang Buddha. Jadi saya tidak perlu untuk mencoba dan memperkenalkannya.

Dahulu kala ada seorang pedagang yang sangat kaya raya yang tinggal di Benares. Ia hanya memiliki satu putera yang bernama Mahadanaka Ananda. Ini berarti seseorang yang tahu uang saja. Ini adalah nama yang jelek. Karena Ananda berarti kebahagiaan. Jadi mungkin ia memperoleh kebahagiaan hanya dari uang, atau mungkin itu hanyalah julukannya.

Sejak ia muda, orang tuanya sangat memanjakannya karena ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Maka ia besar tanpa pengetahuan kecuali hal bernyanyi, menari, berpesta, dan bersukaria dengan teman-temannya dengan uang dari orang tuanya. Dan ketika ia telah cukup umur, orang tuanya mendapatkan seorang istri untuknya. Tak lama kemudian, mereka mati. Dan setelah kematiannya, anak muda tersebut menghabiskan semua waktunya dengan teman-teman bermalas-malasnya yang kebaikannya sia-sia saja, melewati seluruh hari dengan minum-minum dan berjudi.

Sebagai akibatnya, uang ayahnya dengan cepat habis, dan si orang muda terpaksa meminjam uang dari orang lain, tetapi ia tidak bermaksud untuk membayar kembali hutangnya. Ia tidak pernah tahu bagaimana bekerja untuk menghasilkan uang, dan ia tidak pernah tahu bagaimana menyimpannya. Mungkin ia tidak diajarkan bagaimana cara berhemat. Mungkin orang tuanya juga bersalah karena mereka seharusnya telah mengajarkan padanya bagaimana menjadi seorang manusia, dan tidak hanya bagaimana menjadi seorang anak dari orang kaya.

Karena ia meminjam banyak uang pada orang yang berbeda-beda, mereka terus-menerus datang ke rumahnya dan menekannya. Ia menjadi sangat putus asa karena takut dan kuatir dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya, ia memutuskan sebuah rencana tindakan. Ia amat, sangat tertekan dan putus asa, sehingga ia memanggil semua kreditornya dan mengatakan pada mereka bahwa ia memiliki sebuah harta karun yang terpendam dekat tepi sungai Gangga. Dan jika esok hari mereka pergi bersamanya, mereka semua dapat pergi dan melihat bersama harta karun tersebut. Dan kemudian ia akan membayar kembali semua hutangnya pada mereka.

Karena itu, semua kreditor sangat gembira dan mengikutinya ke tepi sungai. Ia mencoba mencari ke sana ke mari, dan setiap orang mengikutinya, meskipun ia tampak kebingungan atas apa yang ia lakukan. Tetapi pria ini bermaksud untuk bunuh diri; semua ini hanya untuk aksi saja. Jadi saat ia tiba pada sebuah tempat di dalam sungai yang sangat deras arusnya, ia menerjunkan diri. Semua kreditor sangat terkejut dan terpaku tak berdaya. Tidak seorang pun yang berani menyelematkannya karena airnya sangat deras.

Saat mereka melihat bahwa ia telah lenyap, semua kreditor dengan sedih kembali ke rumah. Mereka berpikir bahwa ia mati dan tenggelam. Karena ia telah tersapu pergi sangat jauh dalam arus yang sangat deras. Dan mereka tidak melihatnya lagi di hilir sungai; karena itu, mereka pergi. Tetapi saat tubuhnya yang tidak sadar mengalir di bawah sungai, ia melewati rumpun bunga dan hutan pohon mangga. Dan seekor kijang yang sangat indah dan gesit kakinya tinggal di sana, jauh dari kawanan kijang lainnya. Kulitnya berkilau laksana sepuhan emas, dan kakinya terlihat seakan-akan dipoles dengan pernis. Tanduknya bagaikan untaian perak, dan matanya berkerlip laksana permata mulia.

Sang kijang sedang menggigit beberapa rumput lunak saat ia mendengar tangisan ribut bergema dari hutan. Dengan berlari turun ke tepian sungai, ia melihat anak pedagang yang malang berjuang di dalam air. Seketika itu juga ia berteriak, Tunggu! Jangan takut! Aku akan datang untuk menyelamatkanmu. Jadi ia meloncat ke dalam sungai, dan berenang dengan keras melawan arus, untuk mencapai pria itu. Kemudian kijang meletakkan pria tersebut di atas punggungnya dan membawanya dengan selamat kembali ke darat.

Namun putera pedagang tersebut amat letih kemudian pingsan. Selama tiga hari tiga malam, ia tak sadarkan diri, dan sang kijang merawat dan memberinya makan dengan buah-buahan liar. Ketika pria tersebut pulih, sang kijang berkata padanya, Sekarang saya akan membimbingmu keluar dari hutan dan menunjukkanmu jalan ke Benares. Tetapi saya punya satu permintaan. Tolong jangan ceritakan pada raja atau para bangsawan bahwa seekor kijang emas hidup di dalam hutan. Karena mereka akan datang kemari dan mencoba untuk menangkap saya jika mereka mengetahuinya. Karena putera pedagang itu sudah berjanji, lalu sang kijang membawanya ke jalan menuju ke Benares.

Pagi itu, Ratu Kama, permaisuri Raja benares pada waktu itu, bermimpi. Di dalam mimpi ia melihat seekor kijang emas berbicara dalam bahasa manusia. Ia berpikir pada dirinya sendiri, Pasti ada hewan seperti ini. Jika tidak, aku tidak akan bermimpi mengenainya. Karena itu, ia pergi pada Raja, Brahmadatta. Ia bercerita padanya mengenai mimpinya dan bahwa ia menginginkan untuk memiliki hewan semacam itu. Jika tidak, ia akan mati.

Ini adalah muslihat dari wanita tersebut. Bagaimanapun juga cepat atau lambat ia akan mati, jadi apa masalahnya? Namun sang raja, seperti kebanyakan pria di planet ini juga sangatlah bodoh. (Tertawa) Ia sangat takut terhadap istrinya, bahwa ia mungkin akan benar-benar mati. Jika ia mati demi sang raja, hal itu dapat dimaklumi. Tetapi jika ia mati karena seekor kijang, betapapun keemasannya itu, hal itu akan tampak lucu. (Tertawa). Tetapi sang raja membelikannya. Bagaimanapun, hal itu hanya untuk membuat Anda tahu bahwa Anda bukanlah satu-satunya orang yang bodoh, dan siapa bos sesungguhnya di rumah itu. Bahkan pada masa sang Buddha itu sama. Karena itu, saya tidak mengerti mengapa para wanita sekarang ini memboroskan waktu mereka, berdemonstrasi dan memberi ceramah bagi semua jenis hak-hak perempuan dan persamaan hak perempuan. Perempuan tidak akan pernah sama dengan laki-laki. Mereka superior dibanding laki-laki! Saya tidak tahu siapa yang seharusnya berjuang demi persamaan hak. Perempuan tidak pernah sejajar dengan laki-laki. Karena itu, beritahukan pada semua perempuan bodoh ini untuk menghentikannya. Jangan merendahkan martabat kita. Kita superior; persamaan hak apa yang mereka perjuangkan? (Tertawa)

Karena itu, sang raja dengan segera menyuruh memanggil para orang bijak dan menanyakan tentang kijang emas ini, yang berharga dan amat jarang. Dan para orang bijak mengiyakan: Ya, ada hewan semacam ini. Tetapi mereka tidak tahu di mana sang kijang tinggal. Karena itu, sang raja memesan seekor gajah dengan hiasan yang kaya dan berkata pada bentara, Bawalah gajah tersebut dan seribu helai uang dan pergilah ke seluruh penjuru kota. Nyatakan bahwa barangsiapa dapat memberitahukan tentang seekor kijang emas, ia akan mendapatkan sang gajah dan uang sebagai imbalannya. Sekarang Anda tahu siapa bossnya, bukan? Dengan segera ia menghabiskan seluruh uangnya untuk istrinya. Pada waktu itu, mungkin ia sudah tua. Tetapi mungkin semakin ia tua, kekuasaannya semakin kuat.

Karena itu, sang bentara menaiki seekor kuda putih dan berkendara ke seluruh kota memberitakan dengan keras mengenai perintah raja. Anak pedagang, yang baru saja memasuki Benares, mendengar kabar tersebut dan pergi kepada bentara, berkata, Saya dapat memberi informasi mengenai kijang emas yang beliau cari. Bawalah saya padanya. Dan bentara tersebut membawa anak pedagang ke istana dan memohon untuk bertemu, dengan berkata, Yang mulia, pria ini berkata ia mengetahui di mana kijang emas dapat ditemukan. Karena itu, sang raja sangat senang dan meminta putera pedagang untuk membawanya ke sana.

Kemudian raja membawa pasukan besar tentara dan informan, dan berangkat ke hutan di mana kijang emas tinggal. Saat mereka tiba, putera pedagang berkata, Yang mulia, dalam rumpun bunga pohon mangga tinggallah kijang emas yang Anda cari. Lalu raja berkata pada bawahannya, Kepung hutan kecilnya dan siapkan busur dan panahmu. Kalian sama sekali tidak boleh membiarkan kijang tersebut lepas. Dan raja mengendarai kudanya sendiri masuk dan menangkap kijang hanya untuk istri yang dicintainya. Sekarang Anda dapat melihat seperti apa seorang raja itu, dan untuk apa? (Guru dan semua orang tertawa).

Sang kijang, yang sedang beristirahat di bawah naungan pohon, mendengar suara dan dengan seketika waspada. Ia bangkit dan melihat raja berdiri pada kejauhan dengan putera pedagang dan sekelompok anggota istana. Ia berpikir pada dirinya sendiri, Aku akan selamat di tempat sang raja berada sehingga aku harus pergi kepadanya. Itulah apa yang dipikirkan kijang sehingga ia berlari ke tempat sang raja. Secepat angin, ia berlari menuju ke arah raja. Tetapi sang raja dengan segera mengangkat panahnya dan bersiap untuk melepaskan busur. Karena ia berpikir bahwa jika kijang dilukai kakinya atau di tempat lainnya, akan mudah untuk menangkapnya. Tetapi sang kijang berteriak dengan sangat keras, berkata, Yang Mulia Raja, berhentilah. Tolong jangan lepaskan panah Anda.

Sang raja sangat terkejut oleh suara lantang sang kijang, dan ia menjatuhkan panah dan busurnya. Para tentara dan orang lain juga berkerumun dalam keheranan, karena tidak seorang pun sebelumnya pernah mendengar seekor kijang berbicara dalam bahasa manusia. Karena itu, sang kijang pergi ke arah raja dan bertanya padanya dalam suara semanis madu: Siapa yang membawa kabar pada Anda, oh Raja, bahwa saya dapat ditemui di sini?

Karena itu sang raja menunjuk pada putera pedagang dan berkata, Dia. Sang kijang kemudian menolehkan kepalanya pada si pengkhianat dan berkata dengan sangat sedih, Akan lebih baik mendorong keluar sebatang kayu dari sungai daripada menyelamatkan orang seperti Anda. Jadi, ia memaki pengkhianat tersebut. Sang raja sangat terkejut dan bertanya pada kijang, Perbuatan salah apa yang telah ia lakukan terhadapmu? Dan sang kijang menjawab, Yang Mulia, saya menyelamatkan nyawa orang ini pada saat ia tenggelam dan membawanya ke tempat aman dan merawatnya selama tiga hari dan dalam tiga hari ia sembuh. Dan saya berkata padanya untuk tidak menceritakan pada siapapun di mana saya ditemukan, dan ia berjanji demikian. Sekarang, karena perbuatannya yang tidak tahu berterima kasih, saya berada dalam bahaya. Hal itu karena ia mencintai emas dan uang sehingga putera pedagang menjual penyelamatnya.

Mendengar ini, sang saja sangat marah. Ia berbalik ke putera pedagang dan berkata, Kamu telah membayar kemurahan hati dengan pengkhianatan yang hina. Untuk ini, kamu harus mati. Karena itu, ia mengangkat busur dan panahnya dan bersiap untuk menghujam sang pengkhianat. Tetapi putera pedagang sangatlah ketakutan dan gemetar. Ia bertekuk lutut dan memohon kemurahan hatinya.

Melihat keadaan yang menyedihkannya, sang kijang tergerak oleh belas kasihan dan berkata pada raja, Mohon lepaskanlah ia. Jangan ada darah orang malang ini dalam hati nurani Anda. Berikan ia uang yang Anda janjikan padanya, dan suruh ia pergi. Sang raja tertegun sementara tetapi akhirnya mendengarkan permohonan kemurahan hati dari sang kijang. Dan ia berkata pada putera pedagang, “Kamu berhutang nyawa dua kali pada kijang yang mulia ini. Kemudian ia berkata padanya, Pergilah dari sini segera, dan jangan pernah kembali pada kerajaanku lagi atau kamu akan dihukum mati. Putera pedagang langsung mengambil langkah seribu dan menghilang ke tengah hutan, tidak pernah terlihat lagi.

Kijang yang mulia dan bijaksana, menoleh ke raja, berkata, Yang Mulia Raja, lolongan serigala dan burung bercicit mudah dimengerti. Tetapi kata-kata dari manusia sering penuh dengan akal bulus. Anda mungkin berpikir bahwa seorang manusia adalah teman Anda tetapi Anda akan mendapati bahwa ia telah mengkhianati Anda. Sang raja kagum atas kebijaksanaan dan kecerdasan kijang dan memutuskan untuk mengaruniainya sebuah anugerah. “Katakan padaku apa yang kau inginkan, Kijang Emas. Dan itu akan menjadi milikmu. Apapun yang kau inginkan, meskipun aku kehilangan kerajaanku, aku akan menganugerahkannya padamu.

Kijang berpikir dengan seksama dan berkata, Anugerah yang saya mintaYang Mulia Raja, adalah agar seluruh hewan dalam kerajaanmu selamanya akan bebas dari bahaya. Sang raja tersentuh oleh belas kasih dari kijang emas ini dan menyetujuinya. Kemudian beliau membuat sebuah pernyataan bahwa siapapun yang mencelakau segala hewan di dalam kerajaannya akan dihukum berat, dan Ratu Kama sangat bahagia memandang kijang yang rupawan yang berlapiskan emas seperti yang ia lihat di dalam mimpinya. Ia mendengarkan dengan rasa senang pada saat kijang berbicara padanya dalam suara manusia yang berbunyi seperti gemerincing bel perak.

Untuk waktu yang lama, kijang emas tinggal di Benares bersama sang raja dan ratu. Kota dihiasi, dan pesta diselenggarakan sebagai penghormatan pada hewan. Kemudian ia kembali ke hutan di mana telah ia tinggali untuk waktu yang lama. Di sana ia menghabiskan sisa hari-harinya dalam kedamaian.(Tepuk tangan)

Ini adalah cerita yang baik. Jika kita umat manusia dapat meniru bahkan satu bagian kecil dari kualitas mulia dari sang kijang emas ini, maka dunia kita akan menjadi surga. Tetapi sayangnya, kebanyakan dari kita selalu mencoba untuk merebut segala sesuatu untuk diri kita sendiri, dalam setiap keadaan. Bahkan dalam latihan rohani, kita masih tidak dapat menghentikan ketamakan dan egoisme, mencoba untuk merampas berkat spiritual dengan mengorbankan orang lain. Hal ini bahkan lebih gawat daripada mencoba untuk merampas harta benda atau harta milik orang lain dalam dunia fana, karena kita sudah berada dalam jalan rohani. Karena itu, apapun yang kita ambil, kita harus mengusahakannya sendiri. Kita dapat meminta berkah, bimbingan, dan pertolongan kapanpun kita membutuhkannya. Hal ini tidaklah mengapa pada saat kebutuhan muncul atau saat diperlukan, tetapi tidak saat mengorbankan kebahagiaan dan menyebabkan kesusahan orang lain. Coba ingatlah ini.

Di dalam setiap situasi kehidupan, kita harus selalu baik budi dan tak berprasangka. Ini bukan berarti saya meminta Anda untuk selalu mengorbankan diri Anda, bahkan jika hal ini untuk kebahagiaan atau keberhasilan orang lain. Tetapi paling tidak berlakulah dengan wajar. Karena jika kita sebagai praktisi tidak dapat berlaku dengan adil, bagaimana kita dapat mengharapkan dunia luar bertindak adil terhadap kita atau menjadi sebuah tempat yang lebih adil bagi setiap orang untuk hidup di dalamnya. Jadi jika tidak adil di sini, saya tidak dapat percaya bahwa Anda akan adil di luar terhadap orang lain. Dan saya tidak dapat menerima siswa seperti ini, khususnya setelah Anda sudah belajar lama dengan saya. Bahkan jika Anda pendatang baru, saya tetap tidak punya maaf untuk Anda. Karena telah tersedia bagi Anda kaset video, kaset audio, buku, dan segalanya. Anda tidak dapat berkata pada saya bahwa Anda baru sehingga Anda tidak tahu apapun. Jiwa Anda tahu mana yang benar dan mana yang salah. Itulah sebabnya Anda datang kemari.

Jika Anda ingin mengubah diri Anda menjadi seekor rubah, itu masalah Anda, tetapi jangan mengorbankan perkumpulan. Anda datang ke sini tidak untuk mencuri berkah dari seluruh kelompok. Anda tidak datang ke sini untuk bersaing satu sama lain untuk tempat duduk terbaik dalam teater, seperti orang luar. Bahkan orang luar, jika mereka menginginkan tempat duduk terbaik dalam teater, mereka membayarnya! Mereka lebih adil di luar sana. Jadi Anda membayar untuk tempat duduk terbaik dengan latihan rohani dan dengan usaha Anda. Jangan mencoba untuk mencari apapun di sini, karena saya tahu. Saya tahu apa yang menjadi milik siapa. Jika Anda mencoba untuk mencuri di sini, Anda dipersilahkan membuang Lima Pantangan dan tidak repot-repot datang kemari lagi. Karena ini adalah tempat di mana Anda harus menjadi teladan dari status rohani Anda. Jika Anda tidak dapat menunjukkan pada saya di sini, di mana lagikah Anda akan menunjukkannya?

Kita seharusnya tidak pernah melupakan martabat dan tujuan mulia kita di setiap tempat, apapun harganya. Jika kita berlatih degan baik, jika kita mencintai Guru dan mencintai Tuhan, Tuhan mengetahuinya. Guru tahu, pasti. Anda dapat melihat dari kisah sang kijang bahwa kijang bahkan lebih baik daripada kebanyakan umat manusia. Karena itu, kita harus belajar dari semua hewan emas ini. Kita tidak peduli apakah mereka reinkarasi masa lalu Buddha atau tidak; perbuatan mereka memperlihatkan pencapaian rohani mereka. Karena itu jangan terlalu bangga bahwa kita adalah manusia, jika kita tidak dapat melakukannya.

Sebenarnya saya tidak tahu mengapa kita harus bangga bahwa kita adalah manusia. Contohnya, saya baca di koran, saya dengar di radio, dan saya lihat di TV tentang begitu banyak hewan mulia yang menyelamatkan orang. Mereka menyelamatkan anak mereka sendiri, bahkan dengan mengorbankan hidup mereka sendiri. Ada sebuah gambar mengenai seekor kucing. Ia sepenuhnya terbakar, buta, dan ketakutan karena ia kembali sebanyak empat kali ke dalam api dari rumah yang terbakar untuk menyelamatkan keempat anaknya. Ia terbakar dan buta dan tidak dapat dikenali lagi. Tetapi ia membawa mereka semua keluar dan selamat, kucing ini.

Seekor kucing sangatlah mandiri. Setelah ia megandung, saya pikir ia tidak lagi mendapatkan bantuan dari kucing laki-laki atau ayah kucing. Ia membesarkan anaknya sendiri. Dan saya telah melihat banyak kucing di sekitar kita yang kadang-kadang melakukan semua hal yang indah untuk anak mereka. Saya melihat satu kucing membawa makanan yang indah – maafkan saya, bukan hal yang sangat indah untuk diceritakan – tetapi saya melihatnya membawa makanan yang terbaik, seperti seekor tikus atau beberapa makanan besar lain untuk anaknya. Dan ia menangkap lalat, serangga, atau hewan kecil lainnya untuk dimakan dirinya sendiri. Saya tidak menyetujui diet non-vegetarian, tetapi saya tidak dapat berunding dengan seekor kucing. Dan saya tersentuh oleh devosinya. Karena seekor kucing hanya dapat memakan ini, dan ia melakukan yang terbaik untuk memberikan nutrisi bagi anaknya sementara ia makan sampah untuk dirinya sendiri. Saya melihatnya dengan mata saya sendiri. Saya tidak akan memarahinya karena memakan makanan non-vegetarian atau membunuh tikus. Saya hanya tersentuh oleh kasihnya.

Gambar ini masih tergambar jelas dalam pikiran saya setiap saya berpikir mengenai kucing. Karena itu saya tidak tahu mengapa kita manusia memperlakukan hewan dengan amat kejam, kebanyakan dari kita, dan berpikir mereka sebagai makhluk dengan tingkatan yang rendah. Menurut saya banyak hewan sangatlah mulia. Mereka sangat mulia dan penuh kasih terhadap sesamanya, sebagaimana halnya terhadap yang lain. Dan kadang-kadang Anda melihat seekor kucing atau anjing berenang di dalam sungai yang sangat berbahaya untuk menyelatmatkan kawannya. Baik itu teman manusia atau teman anjing atau teman kucing, mereka melakukannya – dengan risiko hidup mereka sendiri. Tetapi tidak banyak dari kita manusia berani melakukan ini. Pada saat kita melihat sebuah situasi yang berbahaya, kita tidak menyabung nyawa kita. Tetapi saat hewan melihat bahaya, mereka masih mengorbankan hidup mereka, atas dasar kasih.

Jadi jika kita manusia tidak dapat kembali pada instink alami akan belas kasih dan rasa sayang, yang masih dimiliki hewan, maka kita seharusnya meyesal terhadap diri sendiri daripada berbangga diri. Dan itulah alasan megapa kita harus vegetarian karena hewan sungguh-sungguh mulia. Mereka benar-benar memiliki kualitas manusia dan jiwa di dalam diri mereka, seperti halnya kita. Karena itu saya berpikir baik juga ketika kita belajar dari hewan. Bukan berarti kita belajar untuk menjadi seekor hewan, tetapi kualitas mereka yang baik harus kita ingat sehingga kita tidak merasa malu berada lebih rendah daripada standar hewan.

Kita harus naik ke posisi mulia orang suci. Untuk melakukannya, kita harus memiliki belas kasih dan rasa sayang dan pengertian serta pengorbanan untuk tidak mementingkan diri sendiri sepanjang waktu, baik itu saat retret, di rumah, di supermarket, atau di manapun juga, bahkan di dalam hutan di mana tidak ada seorang pun dapat melihat kita dan tidak seorang pun ada untuk mencatat perbuatan baik kita atau memuji usaha kita yang mulia. Kita harus selalu mulia dengan sendirian karena kita sendiri tahu siapa kita. Dan Tuhan tahu.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged