Belanja di Toko Kebahagiaan

Seorang muda yang selalu resah dan gelisah menemui seorang bijak dan bertanya, “Berapa lamakah waktu yang saya butuhkan untuk memperoleh kebahagiaan? Orang bijak itu memandang si anak muda kemudian menjawab, “Kira-kira 10 tahun.

Mendengar hal itu anak muda tadi terkejut, “Begitu lama?” tanyanya tak percaya. “Tidak”, kata si orang bijak, “Saya keliru. Engkau membutuhkan 20 tahun.”

Anak muda itu bertambah bingung. “Mengapa Guru lipatkan dua?” tanyanya keheranan. Orang bijak kemudian berkata, “Coba pikirkan, dalam hal ini mungkin engkau membutuhkan 30 tahun.”

Apa yang terlintas dalam pikiran Anda ketika membaca cerita di atas? Tahukah Anda mengapa semakin banyak orang muda itu bertanya, semakin lama pula waktu yang diperlukannya untuk mencapai kebahagiaan?

Lantas, bagaimana cara kita mendapatkan kebahagiaan? Sebagaimana yang telah banyak disampaikan, kebahagiaan hanya akan dicapai kalau kita mau melakukan pencarian ke dalam. Namun, itu semua tidak dapat Anda peroleh dengan cuma-cuma. Anda harus mau membayar harganya.

Agar lebih mudah kita gunakan analogi sebuah toko. Nama toko itu adalah Toko Kebahagiaan. Di sana tidak ada barang yang bernama kebahagiaan karena kebahagiaan itu sendiri tidak dijual. Namun, toko ini menjual semua barang yang merupakan unsur-unsur pembangun kebahagiaan, antara lain: kesabaran, keikhlasan, rasa syukur, kasih sayang, kejujuran, kepasrahan, dan rela memaafkan. Inilah barang-barang yang Anda perlukan untuk mencapai kebahagiaan.

Tetapi, berbeda dari toko biasa, toko ini tidak menjual produk jadi. Yang dijual di sini adalah benih. Jadi, kalau Anda tertarik untuk membeli kesabaran Anda hanya akan mendapatkan benih kesabaran. Karena itu, segera setelah Anda pulang ke rumah Anda harus berusaha keras untuk menumbuhkan benih tersebut sampai ia menghasilkan buah kesabaran.

Setiap benih yang Anda beli di toko tersebut mengandung sejumlah persoalan yang harus Anda pecahkan. Hanya bila Anda mampu memecahkan persoalan tersebut, Anda akan menuai buahnya. Benih yang dijual di toko itu juga bermacam-macam tingkatannya. Kesabaran tingkat 1 misalnya menghadapi kemacetan lalu lintas atau pengemudi bus yang ugal-ugalan. Kesabaran tingkat 2 misalnya menghadapi atasan yang sewenang-wenang atau kawan yang suka memfitnah. Kesabaran tingkat 3 misalnya menghadapi anak Anda yang terkena autisme.

Menu yang lain misalnya bersyukur. Bersyukur tingkat 1 adalah bersyukur di kala senang, sementara bersyukur tingkat 2 adalah bersyukur di kala susah.

Kejujuran tingkat 1 misalnya kejujuran dalam kondisi biasa, sementara kejujuran tingkat 2 adalah kejujuran dalam kondisi terancam.

Inilah sebagian produk yang dapat dibeli di Toko Kebahagiaan.

Setiap produk yang dijual di toko tersebut berbeda-beda harganya sesuai dengan kualitas karakter yang ditimbulkannya. Yang termahal ternyata adalah kesabaran karena kesabaran ini merupakan bahan baku dari segala macam produk yang dijual di sana.

Seorang filsuf Thomas Paine pernah mengatakan, Apa yang kita peroleh dengan terlalu mudah pasti kurang kita hargai. Hanya harga yang mahallah yang memberi nilai kepada segalanya. Tuhan tahu bagaimana memasang harga yang tepat pada barang-barangnya.

Dengan cara pandang seperti ini kita akan menghadapi masalah secara berbeda. Kita akan bersahabat dengan masalah. Kita pun akan menyambut setiap masalah yang ada dengan penuh kegembiraan karena dalam setiap masalah senantiasa terkandung obat dan vitamin yang sangat kita butuhkan.

Dengan demikian Anda akan berterima kasih kepada orang-orang yang telah menyusahkan Anda karena mereka memang diutus untuk membantu Anda. Pengemudi yang ugal-ugalan, tetangga yang jahat, atasan yang sewenang-wenang adalah peluang untuk membentuk kesabaran. Penghasilan yang pas-pasan adalah peluang untuk menumbuhkan rasa syukur. Suasana yang ribut dan gaduh adalah peluang untuk menumbuhkan konsentrasi. Orang-orang yang tak tahu berterima kasih adalah peluang untuk menumbuhkan perasaan kasih tanpa syarat. Orang-orang yang menyakiti Anda adalah peluang untuk menumbuhkan kualitas rela memaafkan.

Sebagai penutup marilah kita renungkan ungkapan berikut ini: “Aku memohon kekuatan, dan Tuhan memberiku kesulitan-kesulitan untuk membuatku kuat. Aku memohon kebijaksanaan, dan Tuhan memberiku masalah untuk diselesaikan. Aku memohon kemakmuran, dan Tuhan memberiku tubuh dan otak untuk bekerja. Aku memohon keberanian, dan Tuhan memberiku berbagai bahaya untuk aku atasi. Aku memohon cinta, dan Tuhan memberiku orang-orang yang bermasalah untuk aku tolong. Aku mohon berkah dan Tuhan memberiku berbagai kesempatan. Aku tidak memperoleh apa pun yang aku inginkan, tetapi aku mendapatkan apa pun yang aku butuhkan.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
Awan Penghalang Pemahaman

Di suatu malam yang suntuk, ada beberapa bapak muda dengan wajah lesu dan layu menunggui istrinya melahirkan. Dalam suasana sepi penuh penantian, tiba-tiba keluar dari pintu seorang dokter dengan senyum gembira. Sambil menyalami seorang bapak, dokter ini berucap: “Selamat, anak Anda kembar dua.” Seperti sudah tahu sebelumnya, bapak tadi berucap datar: “Saya sudah tahu dokter, karena telah lama saya bekerja di dua kelinci.”

Empat puluh lima menit kemudian, dokter yang sama keluar lagi lengkap dengan senyumnya yang khas. Kali ini yang disalami seorang bapak yang lain: “Anda hebat, anak Anda kembar tiga.” Mirip dengan bapak tadi, ia pun hanya berucap datar: “Saya juga sudah ramalkan dokter, karena sejak dulu saya bekerja di tiga roda.”

Satu jam setelah kejadian terakhir, keluar lagi dokter yang peramah ini. Kali ini ia senyum penuh keheranan. Sambil menyalami bapak yang lain, ia berucap kagum: “Anda paling hebat, anak Anda kembar empat!” Tanpa ada tanda-tanda kejadian ini disutradarai manusia, bapak yang memiliki anak kembar empat ini juga hanya menjawab biasa-biasa saja: “Saya sudah duga dari dulu dokter, karena saya bekerja di empat sekawan.”

Setelah mendengar dialog antara dokter dengan suami-suami pasien ini, tiba-tiba saja seorang bapak jatuh pingsan. Dan repotlah semua pihak dibuatnya. Setelah tidak sadarkan diri selama dua jam, dan membuat banyak orang khawatir, tiba-tiba ia sadar dan langsung bertanya pada dokter: “Nasib istri saya bagaimana dokter, sebab saya bekerja lama di Auto 2000?”

Nah, sebelum tertawa disamakan dengan kegiatan teroris, karena akhir-akhir ini banyak penguasa amat takut sama teroris, sebaiknya Anda tertawalah sebanyak-banyaknya. Lebih banyak Anda tertawa lebih bagus. Terutama menertawakan kedunguan pikiran sebagai jembatan pemahaman. Berbeda dengan jembatan yang sebenarnya yang menyeberangkan siapa saja dari satu daratan ke daratan lain tanpa perlu melakukan pemerkosaan, pikiran menyeberangkan manusia dari satu pengertian ke pengertian lain lengkap dengan pemerkosaannya.

Serupa dengan lelucon di atas, ada banyak sekali manusia yang pikiran dan mind-nya tidak menjadi jembatan pengertian, sebaliknya malah menjadi awan penghalang pengertian. Ada Amerika yang pengertiannya tentang Afghanistan menjadi demikian menyimpang, ada Osama yang pemahamannya tentang Amerika jauh panggang dari api. Dalam keseharian saya bertemu banyak sekali orang yang mata dan penglihatannya dibuat demikian kotor oleh mind dan pikiran.

Ketika tulisan ini dibuat, saya barusan habis dimaki-maki dan dibentak-bentak oleh seorang sahabat pengusaha yang sejarah hidupnya banyak sekali dipermainkan dan dikhianati orang. Sehingga kehadiran orang lain seperti saya, dipotret dengan kaca mata kecurigaan yang diproduksi pengalaman masa lalu. Dan saya pun tampil dengan potret penjahat di wajah mind demikian.

Dalam tataran pengertian ini, saya rindu sekali dengan J. Krishnamurti, penulis karya spektakuler dengan judul “Freedom From The Known. Dimana tugas setiap orang yang menginginkan kejernihan dalam hidup adalah “to set him/herself totally and unconditionally free. Membuat diri kita bebas secara total tanpa syarat dari segala keterkondisian.

Keterkondisian yang datang dari luar (pengetahuan, pengalaman, ideologi, agama, dll) lebih mudah untuk diseleksi dan dipilah-pilah, karena memang ia berasal dan berada di luar. Akan tetapi, keterkondisian yang datang dari dalam seperti keyakinan dan kepercayaan, ia lebih bahaya dari sekadar musuh dalam selimut. Keterkondisian dari luar mirip dengan tamu yang datang berkunjung, dan kalau kita tidak suka tinggal menutup pintu rumah kehidupan rapat-rapat. Tetapi keyakinan dan kepercayaan kita sendiri, ia adalah pemilik rumah kehidupan itu sendiri. Disamping berada di dalam rumah, sulit dibayangkan kita bisa mengusir pemilik rumah dari rumahnya sendiri.

Di satu kesempatan, Krishnamurti pernah berucap: It is words, explanations, memories, that clouds the understanding of the fact. Kata-kata, penjelasan, ingatan adalah rangkaian awan yang bisa menutupi pengertian. Dan lebih berbahaya lagi, ada tidak sedikit orang yang mengidentikkan pengertiannya dengan awan-awan penghalang tadi.

Dalam pengalaman saya berinteraksi dengan orang yang memorinya penuh dengan kecurigaan, setiap kata dan penjelasan selalu -sekali lagi selalu – dikaitkan dengan memori masa lalu yang diyakininya. Sebagai akibatnya, setiap usaha untuk melihat kejadian dan orang baru, selalu dihalangi oleh memori masa lalu. Lebih dari itu, maka kejadian dan orang baru pun terlihat persis sama dengan kejadian dan orang kemarin dulu.

Kalau saja semua orang seperti ini, saya, Anda dan semua orang kualitas penglihatannya lebih buruk dari kualitas penglihatan orang-orang buta. Pengetahuan, kearifan, kebijaksanaan, ideologi dan bahkan agama sekalipun, lewat begitu saja di depan mata tanpa sempat kita selami pada kedalaman-kedalaman pengertian yang penuh keheningan.

Oleh karena alasan itulah, telah lama saya terbang di dunia pengertian melalui dua sayap: hening dan ikhlas. Jangankan dipecat, mati pun ikhlas. Keduanya tidak memerlukan kata-kata, penjelasan apa lagi memori. Mirip dengan sudah sampai di ketinggian, agar tetap bisa tinggal di sana, tugas kita sekarang adalah menendang tangga-tangga yang membawa kita sampai di sini. Termasuk menendang tulisan yang tidak menarik ini!

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
Kasih Sejati Seorang Ibu

Di sebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu baru saja melahirkan jabang bayinya.

“Apakah saya bisa melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru melahirkan. Raut wajahnya penuh dengan kebahagiaan. Namun, ketika gendongan berpindah tangan dan si ibu membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungilnya, ia terlihat menahan napas. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit, tak tega melihat perubahan wajah si ibu.

Bayi sang ibu ternyata dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Meski terlihat sedikit kaget, si ibu tetap menimang bayinya dengan penuh kasih sayang.

Waktu membuktikan, bahwa pendengaran putranya ternyata bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan si ibu sambil menangis. Ibu itu pun ikut berurai air mata. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Sambil terisak, anak itu bercerita, “Seorang anak laki-laki besar mengejekku.” Katanya, aku ini makhluk aneh.

Begitulah, meski tumbuh dengan kekurangan, anak lelaki itu kini telah dewasa. Dengan kasih sayang dan dorongan semangat orangtuanya, meski punya kekurangan, ia tumbuh sebagai pemuda tampan yang cerdas. Rupanya, ia pun pandai bergaul sehingga disukai teman-teman sekolahnya. Ia pun mengembangkan bakat di bidang musik dan menulis. Akhirnya, ia tumbuh menjadi remaja pria yang disegani karena kepandaiannya bermusik.

Suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga. “Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuk putra Bapak. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Maka, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya kepada anak mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, “Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia,” kata si ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Ia pun seperti terlahir kembali. Wajahnya yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa waktu kemudian, ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia lantas menemui ayahnya, “Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.”

Ayahnya menjawab, “Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga tersebut. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, si ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku. Sang ayah lantas menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak lelaki terjadi. Ternyata, si ibu tidak memiliki telinga.

“Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,” bisik si ayah. “Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, kan?”

Melihat kenyataan bahwa telinga ibunya yang diberikan pada si anak, meledaklah tangisnya. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunya yang telah membuat ia bisa seperti saat ini.

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun ada di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun justru pada apa yang kadang tidak dapat terlihat. Begitu juga dengan cinta seorang ibu pada anaknya. Di sana selalu ada inti sebuah cinta yang sejati, di mana terdapat keikhlasan dan ketulusan yang tak mengharap balasan apa pun.

Dalam cerita di atas, cinta dan pengorbanan seorang ibu adalah wujud sebuah cinta sejati yang tak bisa dinilai dan tergantikan. Cinta sang ibu telah membawa kebahagiaan bagi sang anak. Inilah makna sesungguhnya dari sebuah cinta yang murni. Karena itu, sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan jasa seorang ibu. Sebab, apa pun yang telah kita lakukan, pastilah tak akan sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita hingga menjadi seperti sekarang.

Mari, jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan. Jadikan beliau sebagai panutan yang harus selalu diberikan penghormatan. Sebab, dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang kembali kepada para ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan.

Selamat Hari Ibu!

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Pekerjaan Itu Indah!

Seseorang yang sedang mengindahkan diri dan pekerjaannya, agar indah kehidupannya.

Mudah-mudahan sapa saya di Kamis petang yang sifat-sifatnya disiapkan
untuk memastikan bahwa kita mencapai hasil terbaik dari pekerjaan kita,
mendapati Anda dalam kesyukuran bahwa kehidupan ini menyerahkan dirinya
bagi pengindahan yang berada dalam kewenangan penuh kita.

Berikut adalah sebuah foto yang saya ambil dari dalam mobil,
di jalan tol dalam perjalanan menuju kota Bandung di penghujung tahun 2009 yang super.

Sulit bagi saya untuk tidak mengenali kegagahan dalam pose-pose kerja
saudara-saudara kita ini. Mereka sangat membanggakan.

Dari pengamatan itulah, saya susunlah Super Note di bawah ini
untuk penikmatan di ruang keluarga MTSC yang ramah dan saling memuliakan ini.

Please kindly enjoy, absorb, and apply.

MARIO TEGUH SUPER NOTE
WORK IS BEAUTIFUL !

PEKERJAAN ITU INDAH !

Sahabat saya yang telah memiliki semua kualitas yang dibutuhkannya untuk menjadi pribadi yang sepenuhnya sejahtera dan berbahagia,

Katakanlah ini seperti Anda menasehatkannya kepada seorang adik yang masih muda:

Adikku yang sedang bekerja keras menjadikan dirinya terpelajar dan ahli dalam ilmu dan pekerjaannya,

Aku mengundang hati baikmu untuk menyadari yang ini, bahwa

Sedikit sekali pemandangan yang lebih indah daripada orang-orang yang dengan gagah bekerja keras untuk menjadikan kehidupan orang lain lebih baik.

Dan ternyata, lebih sedikit lagi orang yang mampu melihat keindahan dalam kerja-keras yang mendatangkan perubahan baik, yang akan menjadikan dunia tempat bermain yang aman dan sehat bagi anak-anak kita, tempat bergaul dan bersahabat yang ramah bagi keluarga dan kerabat kita, dan menjadikan tanah air ini sebagai negeri yang indah dan yang membanggakan.

Perhatikanlah mereka yang bekerja keras bagi kebaikan kehidupan orang lain.

Merekalah pahlawan yang sebenarnya dalam kehidupan.

Mereka tidak risau apakah akan ada orang yang mengenali mereka sebagai pahlawan, atau akan ada orang yang menuliskan nama mereka dalam buku pelajaran sejarah anak cucu mereka di abad mendatang.

Mereka bahkan tidak menyadari bahwa keringat yang membasahi pakaian kerja mereka, adalah peluh yang sama indahnya di mata Tuhan dengan darah para syuhada, yang menggunakan dada mereka sebagai perisai untuk melindungi kedaulatan negeri dan kehormatan bangsanya.

Sedikit hal yang bisa menggantikan kerja keras yang tulus, dan istirahat dalam kesyukuran, dan penerimaan imbalan dengan penuh keharuan.

Maka marilah kita bekerja dengan tulus,
agar suci keringat yang membasahi kulit kita.

Marilah kita beristirahat dalam kesyukuran,
karena kita masih diijinkan bekerja, saat banyak saudara kita sedang merindukan pekerjaan yang belum tersedia bagi mereka.

Dan marilah kita menerima imbalan dari kerja keras kita dengan keharuan,
karena kita masih diijinkan untuk membiayai kehidupan diri dan keluarga yang kita cintai.

Apakah mungkin ada ke-sampai-hati-an di langit sana,
yang akan menahan kebaikan dari seseorang yang bekerja dengan tulus, beristirahat dengan bersyukur, dan menerima imbalan dengan haru?

Apakah Tuhan sampai hati membiarkan jiwa yang gagah dan indah hatinya seperti itu,
untuk berlama-lama dalam kelemahan dan kekurangan?

Apakah Tuhan akan membiarkan doa dan harapan jiwa yang memuliakan kehidupan seperti itu,
hilang dan menguap tanpa tercatat dan terjawab?

Apakah Tuhan yang dekatnya lebih dekat dari apa pun yang terdekat dari urat leher ini,
akan membiarkan tangisan hati yang setia kepada kebaikan keluarganya seperti ini,
… apakah Tuhan akan melambatkan jawaban?

Adikku yang kebahagiaannya sangat diperhatikan Tuhan,

Cintailah pekerjaanmu, karena pekerjaan adalah sarana pemuliaan kehidupanmu.

Jika tidak karena yang kau kerjakan, karena apakah engkau akan disejahterakan dan dibahagiakan?

Maka,

Cukupkanlah pengumuman bahwa engkau mencintai keluargamu.

Bekerjalah dengan tulus.

Jika engkau mencintai keluargamu, engkau akan bekerja dengan tulus.

Dan jika ada adikmu yang ke-keras-an kepalanya adalah untuk menolak kebaikan baginya, katakanlah ini kepadanya:

Engkau yang keras kepalanya adalah untuk kesulitannya sendiri, dengarlah ini dengan hatimu;

Apakah kau kira kesejahteraan dan kebahagiaan keluargamu dapat kau bangun dengan memperlakukan pekerjaanmu seperti tempat berlibur?

Apakah kau kira pekerjaanmu akan menjadi doamu,
jika engkau mengurangi hak mereka yang membayarmu,
mengurangi takaran dalam perniagaanmu,
berbohong untuk menutupi kebohonganmu,
menyalahkan orang lain untuk menyembunyikan kesalahanmu,
dan menggunakan nama Tuhan untuk memalsukan dosamu?

Apakah engkau menjadikan kehidupanmu sebagai doa yang tidak pantas didengar oleh Tuhan?

Maha suci Tuhan yang melindungi kita dari sifat-sifat buruk,

Adikku yang kebahagiaannya menjadi landasan dari semua doaku dan alasan bagi semua kerja keras ku,

Indahkanlah dirimu dalam pekerjaanmu.

Karena itulah yang akan menjadi pengharus bagi Tuhan untuk memindahkanmu ke pekerjaan yang indah, dari tempat yang tidak memuliakanmu.

Indahkanlah caramu dalam pekerjaanmu.

Karena itulah yang akan menjadikan pelebih takaran bagi imbalan yang kau terima.

Indahkanlah kesyukuran dan keharuan mu dalam menerima imbalan dari kerja kerasmu.

Karena itulah yang menjadi sebab bagi pemuliaanmu dalam tugas-tugas yang lebih besar.

Indahkanlah hatimu.

Karena itulah yang menjadikan Tuhan ikhlas menugaskanmu sebagai pengindah kehidupan sebanyak mungkin saudaramu.

Adikku,

Janganlah lagi engkau tertarik kepada apa pun yang tidak mengindahkan dirimu,
yang tidak mengindahkan pikiran dan perasaanmu,
dan pastikanlah engkau menjauhkan dirimu dari perilaku yang tidak mengindahkan namamu.

Indahkanlah nama mu, karena itu adalah cara untuk menjadikan nama mu berpendar dengan sinar dari nama Tuhan mu.

Dan itu hanya bisa kau bangun melalui pekerjaan yang memuliakan diri dan keluargamu.

Adikku yang berhak bagi tempat yang indah di surga,

Pekerjaan itu indah.

Janganlah engkau pernah lupakan itu.

………..

Sahabat saya yang hatinya subur bagi kebaikan,

Mudah-mudahan Super Note di atas dapat menemani istirahat Anda malam ini, dan menjadi pendamping bagi kerja keras Anda besok pagi.

Marilah kita memilihkan diri kita sebagai pemimpin bagi kehidupan berbangsa yang baik, yang jujur, dan yang amanah.

Semoga Tuhan menjadikan kita pribadi-pribadi teladan yang membangun kerinduan pada banyak jiwa untuk menjadi pribadi yang ikhlas hidup dalam kebaikan.

Dan dengannya, mudah-mudahan Tuhan menyejahterakan kita dengan kesehatan, keharmonisan, nama baik, dan harta yang memampukan kita untuk menjadi pemimpin yang memuliakan sesama.

Mohon disampaikan salam sayang untuk keluarga Anda tercinta, dari Ibu Linna dan saya.

Sampai kita bertemu dan berjabat-tangan suatu ketika nanti ya?

Loving you all as always,

Mario Teguh

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
Kosongkan Cangkir Tehmu

Di sebuah kerajaan, karena kesibukan sang raja memerintah, permaisurilah yang menemani dan sangat memanjakan sang pangeran. Pangeran tumbuh menjadi pemuda yang sombong, egois, kurang sopan santun, dan malas belajar. Raja sangat sedih memikirkan sikap pangeran muda. Bagaimana nasib negeri ini nantinya?

Setelah berbincang dengan permaisuri, raja pun bertitah: “Anakku, tahta kerajaan akan ayah serahkan kepadamu, tetapi dengan syarat engkau harus tinggal dan belajar selama 1 tahun di atas bukit bersama seorang guru yang telah ayah pilih. Bila engkau gagal, maka tahta kerajaan akan ayah serahkan kepada orang lain.

Pangeran serta merta menyanggupi persyaratan itu. Dalam hati ia berkata, “Apalah artinya penderitaan 1 tahun dibandingkan kelak sebagai raja, aku bisa hidup mewah dan bersenang-senang seumur hidupku!

Setibanya di kediaman sang guru, tingkah laku pangeran tetap sombong, menyebalkan, dan tidak sopan. Dia merasa sebagai pangeran, semua orang harus menuruti kemauannya. Setiap kali gurunya bertanya, pangeran menjawab semaunya. Setiap kali gurunya menerangkan pelajaran, pangeran tidak mendengarkan-merasa sudah tahu semua.

Tidak terasa hari pun berganti minggu. Sang guru berpikir keras tentang cara untuk memberi pelajaran kepada pangeran yang sombong dan sok pintar itu.

Suatu hari, sang guru menyeduh teh dan menuangkan ke cangkir pangeran. Air teh dituang terus dan terus hingga tumpah ke mana-mana sehingga mengenai tangan sang pangeran. Pangeran berteriak marah, “Hai, bodoh sekali! Menuang teh saja tidak becus! Cangkir sudah penuh mengapa masih dituang terus? Air mendidih, lagi!

Dengan tersenyum sang guru berkata tegas, “Beruntung hanya tangan pangeran yang terkena percikan teh panas. Sebagai seorang pangeran, calon raja dan suri teladan bagi rakyatnya, tidak sepantasnya berkata tidak sopan seperti itu, lebih-lebih kepada gurunya sehingga sepantasnya mulut pangeranlah yang harus dituang teh panas ini. Guru sengaja menuang terus cangkir yang telah terisi penuh karena ingin mengajarkan kepada Yang Mulia bahwa cangkir teh diumpamakan sama seperti otak manusia. Bila telah terisi penuh maka tidak mungkin diisi lagi. Karenanya kosongkan dulu cangkirmu, kosongkan pikiranmu, agar bisa diisi hal-hal baru yang positif. Hanya bekal ini yang ingin guru sampaikan. Bila pangeran tidak berkenan, silakan pergi dari sini.

Mendengar perkataan sang gurunya yang tegas, pangeran seketika tertunduk malu. Peristiwa itu menyadarkan pangeran untuk mengubah sikapnya dan menerima pelajaran dari gurunya. Tentu saja perubahan sikap pangeran ini membuat raja sangat bergembira.

Karena status, pendidikan, atau kedudukan, seringkali seseorang merasa lebih tahu, lebih mengerti, dan lebih pintar dari orang lain. Sikap seperti ini membuat pikiran tertutup (atau mental block), sulit menerima hal-hal baru yang diberikan oleh orang lain.

Sikap seperti ini jelas merugikan dirinya sendiri. Jika kita bisa bersikap open mind/membuka pikiran dalam menerima hal-hal baru dan mau menerima kritikan yang diberikan oleh orang lain, maka kita akan dapat memetik banyak keuntungan; seperti bertambahnya wawasan, ide, pengetahuan, pengertian, wisdom, dan lain sebagainya. Pasti semua itu bisa kita manfaatkan untuk mengembangkan.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Meja Kayu

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu”, ujar sang suami. Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk Pak Tua ini. Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saat aku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmata pun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah, atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.

Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap bangunan jiwa yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tuhan

Di masa lalu, ketika kata-kata pertama menggetarkan bibirku, aku mendaki gunung suci dan kepada Tuhan aku berkata, Tuan, aku ini budakmu. Kehendak-Mu yang tersembunyi adalah hukum bagiku dan aku akan mematuhi-Mu selamanya.

Tetapi Tuhan tidak menjawab, dan sesuatu yang menyerupai prahara besar berlalu.

Dan seribu tahun kemudian aku mendaki gunung suci dan kepada Tuhan aku berkata lagi, Pencipta, aku ini ciptaan-Mu. Dari segumpal tanah liat Kau bentuk aku dan sepenuhnya aku milik-Mu.

Dan Tuhan tidak menjawab, tetapi sesuatu yang menyerupai seribu kepak sayap berlalu.

Dan setelah seribu tahun aku memanjat gunung suci dan berkata lagi kepada Tuhan, Bapa, akulah anak-Mu. Dengan kasih dan cinta Kau menetapkan kelahiranku, dan melalui cinta dan pemujaan aku akan mewarisi kerajaan-Mu.

Dan Tuhan tidak menjawab, dan seperti kabut yang menyelimuti bukit-bukit jauh ia berlalu.

Dan seribu tahun kemudian aku memanjat gunung suci dan berkata lagi kepada Tuhan, Tuhanku, tujuan dan kepuasanku; akulah masa lalu-Mu dan Kaulah masa depanku. Akulah akar-Mu di bumi dan Kaulah bunga rekahku di langit, dan bersama-sama kita tumbuh di depan paras matahari.

Kemudian Tuhan membungkuk ke arahku, dan membisikkan di telingaku kata-kata manis; dan seperti laut memeluk selokan yang mengalir kepadanya, Ia memelukku.

Dan ketika aku turun ke pelbagai lembah dan dataran, Tuhan juga ada di sana.

Kahlil Gibran, Dunia yang Sempurna, Mediakita

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
Kawanku

Kawanku, aku bukanlah apa yang tampak padaku. Penampilan tak lebih hanyalah pakaian yang kukenakan -kain bagus yang melindungiku dari cecaran pertanyaanmu dan menjagamu dari kealpaanku.

Aku di dalam diriku, kawanku, mendekam di rumah keheningan, dan di sana ia akan tinggal selamanya, tak teraba, tak terdekati.

Mustahil bagiku untuk membuatmu meyakini apa yang kukatakan atau memercayai apa yang kulakukan -sebab kata-kataku hanyalah isi pikiranmu yang kusuarakan dan tindakanku adalah harapanmu yang diwujudkan.

Ketika kau berkata, Angin bertiup ke timur, aku mengatakan, Ya, angin memang bertiup ke timur; sebab aku tak bisa membuatmu paham bahwa pikiranku tidak berumah di angin melainkan di permukaan laut.

Engkau tidak bisa memahami kembara pikiranku, dan aku tak bisa membuatmu paham. Aku akan sendirian saja di laut.

Jika siang merapat padamu, kawanku, maka malam, merapat padaku; tapi aku lantas berbicara tentang tengah hari yang menari di punggung-punggung bukit dan tentang bayang-bayang ungu yang mencuri jalan ke arah lembah; karena kau tidak bisa mendengar nyanyian kegelapanku atau menyaksikan kepak sayapku memukul bintang-bintang -dan aku sudah terbiasa tidak mendapati engkau mendengar atau melihat. Aku akan sendirian berkawan malam.

Ketika kau naik ke surgamu, aku turun ke nerakaku -dan kemudian kau memintaku untuk menyeberangi teluk tanpa jembatan, Temanku, kawanku, dan aku menyeru balik kepadamu, Kawanku, temanku-karena aku tidak mungkin membuatmu melihat nerakaku. Nyala api akan membakar pandang matamu dan asap akan menyesaki lubang hidungmu. Dan aku mencintai nerakaku begitu rupa dan berharap kau mengunjungiku. Aku akan mendekam di neraka sendirian.

Kau mencintai Kebenaran, Keindahan, dan Kebajikan; dan demi engkau, aku mengatakan bahwa memang baik dan sudah selayaknya mencintai hal-hal itu. Tetapi di dalam hatiku aku terkekeh pada cintamu. Namun tak bisa membuatmu menyaksikan aku tertawa.

Aku akan tertawa sendirian.

Kawanku, engkau baik, waspada, dan bijaksana; ya, engkau sempurna -dan aku, begitu juga, berbicara kepadamu dengan bijak dan waspada. Sesungguhnya aku gila. Tetapi aku menopengi kegilaanku. Aku akan gila sendirian.

Kawanku, engkau bukanlah kawanku, tetapi bagaimana cara membuatmu paham? Jalanku bukanlah jalanmu, tetapi kita jalan bersama, bergandeng tangan.

Kahlil Gibran, Dunia yang Sempurna, Mediakita

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
Dua Ekor Anjing yang Bijaksana dan Pandai

Pada tanggal 7 Mei 2002, ketika saya sedang berkeliling, melalui perbatasan Panama dengan bis, petugas imigrasi setempat meminta semua penumpang untuk membariskan koper-koper mereka untuk pemeriksaan obat-obatan terlarang oleh anjing pelacak.

Sang anjing dengan penuh kesetiaan melaksanakan tugas dengan mencium setiap koper tanpa kecuali. Tetapi, ketika dia datang ke koper saya, dia melampauinya tanpa menciumnya sekalipun. Dan ketika dia memutar untuk memeriksa sisi yang lainnya dari deretan koper yang sama, dia mencium setiap koper dan melewati koper saya untuk kedua kalinya. Saya pikir ini adalah luar biasa dan menjadi sangat ingin tahu. Mengapa anjing itu sangat yakin sampai dia tidak mencium koper saya? Mungkin saja masuk akal kalau mengatakan bahwa anjing itu sangat sensitif dan sadar bahwa tidaklah perlu untuk memeriksa koper saya sebab saya sesungguhnya tidak membawa obat terlarang apapun. Tetapi, koper orang lainpun lolos pemeriksaan, yang berarti pula bahwa mereka juga tidak membawa obat-obatan terlarang. Tetapi anjing itu tetap memeriksa setiap koper dengan “keahlian hidungnya.” Satu-satunya penjelasan yang dapat saya pikir adalah bahwa foto Guru di dalam koper saya itu bercahaya ataukah ada tanda yang tak terlihat dari koper saya yang memberikan pesan yang seketika bahwa tidak perlu diperiksa.

Pada kesempatan lain, ketika saya mengunjungi negara yang lain dan mendapatkan bahwa ada seekor anjing yang menetap di center setempat, juga sangat bijaksana dan sensitif. Dia bisa membedakan antara inisiat dan yang bukan inisiat meskipun dia berada ratusan meter dari tamu yang datang dan berada di belakang pintu gerbang center. Jika tamu yang datang itu bukan seorang saudara sepelatihan, dia akan menggonggong. Tetapi jika tamu itu seorang inisiat, dia akan bergegas keluar untuk menyambut mereka tetapi tidak menggonggong.

Dia tidak pernah menggonggong pada saya setelah saya tiba di center, melainkan selalu mengawal saya, kadang berjongkok di luar kamar atau kantor saya tetapi tidak pernah melanggar masuk ke dalam. Kemudian jika saya pergi ke sudut lain dari center, dia akan mengikuti saya dengan seketika. Dia juga sangat ramah terhadap semua Utusan Quan Yin yang mengunjungi center. Anjing itu sungguh-sungguh seekor anjing pengawal, berbadan besar dan dengan serius menjaga center setiap hari. Banyak orang yang takut padanya karena kadang-kadang dia menggigit.

Beberapa saudara sepelatihan menghubungkan pengalaman mereka tentang bagaimana anjing itu menggonggong pada mereka bahkan berusaha untuk menggigit mereka sebelum mereka diinisiasi dan bagaimana dia berhenti melakukan itu setelah mereka diinisiasi. Kelihatannya inisiasi menganugerahi kita dengan tanda khusus atau getaran yang membuat anjing itu mendeteksi perbedaan yang jelas. Tetapi, anjing itu tetap menggonggong pada beberapa inisiat yang mungkin tidak berlatih dengan serius.

Anjing itu juga punya kemampuan telepati dan selalu mengerti ketika seseorang berusaha untuk berkomunikasi dengannya. Sebagai contoh, suatu waktu seorang saudari sepelatihan datang untuk suatu urusan penting dengan utusan Quan Yin pada larut malam dan anjing itu keluar ke semak-semak dekat pintu gerbang untuk menyambutnya. Saudari itu kemudian menyuruhnya pergi duluan dan dia menurut. Pada saat lain, saudari itu ditugaskan untuk menjual mobil milik center. Ketika dia membiarkan pembeli membawa mobil itu ke luar, anjing itu berlari mengelilingi mobil itu dengan panik. Tetapi ketika saudari itu menjelaskan bahwa mobil itu dijual atas instruksi dari Guru, dia menjadi tenang dan duduk dengan tenang. Saudari itu berbicara dalam bahasa Cina dan bukan dengan bahasa Spanyol yang dipakai oleh orang setempat, dan anjing itu mengerti. Suatu hari, saya berpikir bahwa anjing ini sangatlah bertanggung jawab dan merasa kasihan kalau dia tidaklah bertingkah laku seperti anak yang lucu dan senang bermain. Sesaat kemudian, dia datang pada saya dan menyentuh-nyentuh kaki saya dengan hidungnya, menandakan bahwa dia ingin bermain dengan saya.

Anjing itu pada mulanya datang ke center dengan sendirinya, dan beberapa di antara kami bergurau kalau anjing itu dikirim Tuhan dengan misi khusus untuk menjaga center ini. Temannya yang juga dari turunan yang sama, sering mengunjunginya. Teman anjing itu lambat laun pergi dan dia tetap tinggal, tidak pernah melalaikan tugasnya ataupun menyelinap keluar untuk bermain. Tidak lama berselang, ketika dia tahu bahwa tempat ini telah terurus dengan baik, dia menyerah pada usia tua dan meninggal dalam damai di samping kali kecil yang melalui center. Kami semua merasa sangat kehilangan dia!

Guru pernah berkata bahwa anjing dapat melihat aura dari manusia. Itulah mengapa ada anjing yang menggonggong pada orang tertentu dan tidak menggonggong pada orang yang lainnya. Jadi adalah benar tentang adanya hal kekuatan spiritual atau energi yang berbeda dari setiap orang.” (Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai dalam Bahasa Inggris, selama Retret Natal 4-hari di Florida, 26 Desember, 2001, Majalah News No. 131) Cerita tentang dua ekor anjing ini merupakan bukti dari kebenaran kata-kata Guru!

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
Perangai Seorang Raja yang Saleh

Pada suatu hari, seorang miskin sedang berjalan melewati hutan mangga, dimana dia melihat banyak mangga pada pepohonan yang kelihatannya sangat lezat dan menggoda. Dia amat lapar karena dia belum makan selama tiga hari. Maka dia segera memungut batu dan melemparkannya pada salah satu pohon mangga. Beberapa mangga yang besar berjatuhan di tanah dan orang itu merasa sangat gembira. Lalu dia memungut mangga-mangga itu dan memakannya dengan penuh nafsu.

Kebetulan sekali pada waktu itu raja sedang bermain catur dengan permaisurinya yang cantik di hutan mangga itu, dan batu yang telah menjatuhkan buah-buahan dari pohon mangga itu kemudian mendarat di kepala raja. Untung saja, topi raja melindungi kepalanya, tetapi batu itu membuat topi itu terjatuh, dan demikianlah orang yang paling miskin bertemu dengan orang yang paling kaya di kerajaan itu. Raja yang merasa amat beruntung karena nyaris terkena batu itu, tidak bermaksud untuk menyelidiki hal itu. Namun, permaisuri dan menteri-menteri yang ada disampingnya sangat marah, dan mereka mencari penyerang yang telah melempar batu itu. Mereka tidak dapat memahami mengapa orang itu begitu berani untuk melemparkan batu kepada raja. Dibalik itu, mereka ingin memperoleh penghargaan atas pekerjaan mereka. Mereka segera menahan orang miskin itu, dengan serta merta mengadakan sidang ditempat, dan menjatuhkan hukuman mati kepada dia karena menyerang raja.

Kemudian raja bangkit dari kursinya dan menanyakan kepada menteri-menteri mengapa mereka menjatuhkan hukuman mati kepada orang itu. Dia lalu menyuruh pelempar batu itu dibawa kehadapannya dan bertanya, “Mengapa kamu melempar batu?” “Untuk mendapat mangga dari pohon,” jawab orang itu. “Apakah kamu mendapatkan mangga?” “Ya, tuanku.” “Sudahkah kamu memakan mangga itu?” “Ya,Tuanku.”

Raja lalu berbalik kepada menteri-menterinya dan berkata, “Orang miskin itu lapar, dan dia menimpuk pohon dengan batu ini. Dia mendapat beberapa mangga dan memakannya. Sekarang beritahukan saya, berapa lama dia akan menjadi kenyang setelah memakan mangga-mangga itu?” “Kira-kira dua puluh empat jam, tuanku. Dia tidak akan lapar selama sehari penuh.” “Benar. Sekarang saya ingin umumkan keputusan saya.” Semua orang menunggu dengan cemas, berpikir, “Adakah yang lebih buruk daripada hukuman mati? Kami sudah menjatuhkan hukuman mati kepada orang itu. Bagaimana lagi raja ingin menghukum dia?”

Kemudian raja mengumumkan, “Saya memerintahkan bahwa mulai hari ini sampai akhir hidupnya di bumi, orang miskin ini akan menerima makanan yang cukup dari kita untuk dimakan olehnya. Sampaikan perintah saya sekarang juga kepada menteri ekonomi.” Semua orang tercengang dan bingung. Hukuman macam apa ini? Mereka belum pernah dengar hukuman yang seperti itu. Ratu mengira bahwa itu dikarenakan dia telah melayani raja dengan baik, dengan demikian dia membuatnya gembira. Ratu tersenyum, mengira bahwa itu adalah jasanya.

“Sayangku!” kata raja kepada ratu, “Beritahu saya, apakah pohon mangga itu adalah suatu obyek yang hidup atau bukan?” “Bukan suatu obyek yang hidup, tuanku,” jawab ratu. “Dan bagaimana dengan saya?” raja bertanya. Dan ratu menjawab, “Mengapa bertanya demikian, yang mulia. Manusia, ciptaan tertinggi, adalah makhluk-makhluk hidup dan baginda adalah permata diantara manusia, orang yang saleh, agung, berbudi dan bijaksana.”

Raja melanjutkan, “Sayangku, karena saya adalah seorang makhluk hidup, bagaimana saya pantas sebagai manusia jika saya gagal membuktikan bahwa saya lebih berharga daripada pohon itu? Apa gunanya Tuhan memberikan saya status kemanusiaan ini?” Ratu berkata, “Baginda lebih berharga daripada semua orang lain untuk status kemanusiaan yang telah diberikan Tuhan kepada baginda. Tapi mengapa baginda mengatakan ini? Apakah maksudnya?”

“Lihat! Orang miskin itu menimpuk pohon dengan sebuah batu, dan pohon itu memberikan buahnya yang lezat untuk dimakan, buah itu memenuhi rasa laparnya selama sehari. Batu itu juga mengenai saya. Karena saya adalah raja dari segala makhluk hidup dan permata diantara manusia, bukankah seharusnya saya membuktikan bahwa diri saya lebih berharga daripada pohon? (Guru dan semua orang tertawa; tepuk tangan.) Itulah sebabnya saya telah memerintahkan untuk memberikan makanan kepada orang ini sepanjang hidupnya.”

Dengan segera, ratu, menteri-menteri, bawahan-bawahan dan pelayan-pelayan semuanya menjatuhkan diri di kaki raja, bersujud kepada dia. Mereka memujanya, menyatakan, “Oh! Tuanku! Baginda adalah seorang raja yang benar-benar jarang dan amat saleh. Siapakah, selain Tuhan, yang dapat mewujudkan kasih sayang dan kemurahan hati yang seperti itu? Tuhan ada didalam diri baginda. Pahala, berkah dan cinta-kasih baginda adalah sebanding dengan Sang Budha, Yesus Kristus, dan orang-orang suci dan para bijaksana yang agung di segala jaman. Hanya penguasa seperti baginda yang dapat memberikan inspirasi kepada orang-orang untuk mengembangkan kasih sayang dan cinta-kasih didalam diri mereka. Terinspirasi oleh teladanmu yang agung, orang-orang akan mengasihi dan melayani satu dengan lainnya. Mereka akan menyucikan tubuh, ucapan dan pikiran mereka, dan mengubah tubuh dan jiwa mereka menjadi orang-orang yang terlatih. Berkatilah kami, agar kami dapat menjadi pelayan-pelayan dan pengikut-pengikutmu yang setia selamanya.”

Ini adalah sebuah kisah yang sangat bagus. Beginilah cara kita harus bersikap. Kadang-kadang, kita tidak lebih baik daripada pohon. Ketika kalian memukul sebuah pohon atau menggoyangnya, ia akan menjatuhkan buah untuk memberi kalian makan. Tetapi saat kalian menggoyang dan memukul seseorang, dia mungkin akan membunuh kalian karenanya. (Tertawa) Beberapa orang benar-benar tidak lebih baik daripada pohon!

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged