Berat Segelas Air

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stres, Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya:

Seberapa berat segelas air ini menurut perkiraan Anda? Para siswa menjawab 200 gr sampai 500 gr.

“Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama Anda memegangnya”, kata Covey.

“Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin Anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”

“Jika kita membawa beban kita terus-menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Berat beban itu akan meningkat,” lanjut Covey.

Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi.

Renungan:

Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik agar kita menjadi lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi, sebelum pulang ke rumah, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan membawanya pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apa pun beban yang ada di pundak Anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat, beban itu dapat diambil lagi.

Hidup ini singkat. Jadi, cobalah untuk menikmatinya dan memanfaatkannya. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat atau disentuh, tetapi dapat dirasakan jauh dalam relung hati kita.

Dessy Danarti, Hadiah Terindah: 88 Kisah Motivasi dan Inspirasi bagi Sukses Hidup dan Karier, Penerbit ANDI, 2007

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Berani Mencoba

Alkisah, adalah seorang pembuat jam tangan yang berkata kepada jam yang sedang dibuatnya.

Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak kurang lebih 31.104.000 kali selama setahun?, “Ha?”, kata jam terperanjat. Mana saya sanggup?

Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?

Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini? jawab jam penuh keraguan.

Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam?

Dalam satu jam harus berdetak 3.600 kali? Banyak sekali itu, tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuannya sendiri.

Dengan penuh kesabaran, tukang jam itu kemudian berbicara kepada jam, “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?

Naaaa, kalau begitu aku sanggup! kata jam dengan penuh antusias.

Demikianlah, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu. Dan sungguh luar biasa, jam itu ternyata mampu berdetak tanpa henti selama satu tahun penuh. Itu berarti, ia telah berdetak sebanyak 31.104.000 kali.

Renungan

Ada kalanya kita merasa ragu dengan segala tugas pekerjaan yang terasa begitu berat. Jika sudah menjalankannya, kita akan menyadari bahwa kita ternyata mampu. Bahkan untuk pekerjaan yang semula dianggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Jangan berkata tidak, sebelum Anda mencobanya.

Ada yang mengukur hidup dari hari dan tahun dengan denyut jantung, gairah, dan air mata. Tetapi, ukuran sejati di bawah mentari adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk orang lain.

Dessy Danarti, Hadiah Terindah 88 Kisah Motivasi dan Inspirasi bagi Sukses Hidup dan Karier, Andi Yogyakarta, 2007.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Kematian Membebaskan Kehidupan

Diantara demikian banyak kejadian dalam kehidupan, mungkin kematian adalah kejadian yang paling ditakuti. Perpisahan, kesedihan, tangisan, ketidakpastian hanyalah sebagian hal yang bertanggung jawab terhadap amat ditakutinya kematian di zaman ini. Sehingga dengan berbagai cara, berusahalah manusia menjauhi kematian. Sayangnya sekeras apa pun manusia berusaha, sekencang apa pun ia berlari menjauh, tetap begitu saatnya datang, kematian akan menjangkau siapa saja yang sudah saatnya dijemput.

Benar yang pernah dikatakan sejumlah guru, ketika kematian mengunjungi kehidupan orang lain, ia dianggap hanya akan datang pada kehidupan orang, tidak untuk diri sendiri. Inilah yang bertanggung jawab terhadap hilangnya demikian banyak kepekaan manusia. Sekaligus menjadi sebab dari tuli serta butanya manusia dari banyak sekali tanda-tanda kehidupan. Ketulian dan kebutaan ini juga yang menyebabkan kehidupan serba berwajah mendadak dan tiba-tiba. Mendadak kehidupan menjadi amat menyedihkan. Tiba-tiba kehidupan berwajah amat mengerikan. Padahal, dengan berbekalkan kepekaan semuanya penuh dengan tanda-tanda peringatan dini.

Dari kesadaran seperti inilah, kemudian sejumlah murid penekun kehidupan memulai menekuni kematian. Tidak untuk gagah-gagahan, melainkan untuk belajar membuka jendela-jendela kepekaan. Sayangnya, pelajaran-pelajaran kepekaan tidak bisa dipelajari mendalam melalui buku, tulisan, radio, televisi, dan media tidak langsung lainnya. Memaksakan diri mempelajari kematian melalui buku saja misalnya, mirip dengan memuaskan rasa lapar hanya dengan memandang gambar pisang.

Ini sebabnya, kenapa orang-orang yang belum mengalami sendiri secara langsung kematian orang-orang dekat, tidak bisa bergerak jauh dalam hal ini. Karena cerita dan pengalaman orang lain hanya gambar pisang. Tentu dari sini tidak disarankan untuk melakukan kesengajaan-kesengajaan berbahaya agar orang dekat meninggal, sekali lagi tidak disarankan. Ada hukum-hukum alami yang sebaiknya dibiarkan bekerja sempurna.

Bagi setiap sahabat yang pernah mengalami langsung kehilangan ibu, bapak, ibu mertua, dan orang-orang dekat lainnya, kemudian merenung dalam di depan kematian, akan memiliki banyak cerita tentang kematian. Bedanya dengan orang-orang kebanyakan yang takut kematian, penyelam-penyelam dalam di kolam kematian terakhir justru berterima kasih pada kematian. Hanya melalui kematian, kehidupan bisa dipahami secara mendalam.

Salah satu penyelam dalam sekaligus mengagumkan dalam hal ini bernama Thich Nhat Hanh. Setelah mengalami sendiri banyak sekali orang dekat yang meninggal akibat ditembus peluru ketika perang Vietnam, serta menyelam dalam di kolam kematian, ia sampai dalam kesimpulan sederhana namun amat mendalam. Kehidupan mirip dengan gelombang di laut. Ada gelombang tinggi (baca: jabatan tinggi, kekayaan menggunung, nama terkenal), ada gelombang rendah (orang-orang biasa dan kebanyakan), namun keduanya akan berakhir ketika menyentuh bibir pantai.

Kematian persis seperti gelombang yang menyentuh bibir pantai. Perwujudan luarnya memang menghilang. Namun bukan berarti ia menghilang. Ia kembali ke hakikat aslinya sebagai air lautan. Kesedihan, perpisahan, ketidakpastian serta atribut-atribut buruk yang melekat pada kematian muncul karena manusia amat melekat pada bentuk luar gelombang (baca: tubuh serta badan). Namun, belajar dari gelombang yang sudah menyentuh pantai, kematian hanya pergerakan kembali ke bentuk asal.

Pemahaman sederhana sekaligus mendalam seperti ini tentu tidak menjadi monopoli Thich Nhat Hanh saja. Banyak sekali sahabat yang memiliki pemahaman serupa. Namun ada yang serupa diantara mereka: pernah mengalami kematian orang-orang dekat, sekaligus merenung dalam di kolam-kolam kematian. Dan banyak diantara mereka yang bertutur penuh antusias kalau kematian bukan perpisahan, ia hanyalah awal dari hubungan yang lebih murni. Ada juga yang mengungkapkan, awalnya kematian memang memproduksi kesedihan, namun setelah diselami ternyata ia menyediakan kebahagiaan yang berlimpah. Ada lagi yang menyebutkan, ketika pintu kematian terbuka bagi bagi orang-orang dekat, sepertinya memang banyak awan ketidakpastian yang muncul. Namun begitu kematian berlalu agak lama, ada kepastian-kepastian baru yang muncul.

Lebih dari sekadar terperangkap dalam makna-makna kematian seperti ini, kematian juga membukakan pintu bagi kehidupan yang lebih kokoh. Tanda-tanda di awal kematian seperti air mata, kesedihan, perpisahan, dan ketidakpastian salah-salah memang bisa menjadi racun kehidupan. Namun banyak sekali sahabat yang telah menyelam langsung di kedalaman kematian bertutur, Tidak ada vitamin kehidupan yang lebih menyehatkan dibandingkan kematian. Ketegaran, kesabaran, ketekunan, kebijaksanaan hanyalah sebagian hal yang layak disebut sebagai hadiah-hadiah pasca kematian.

Namun mirip dengan kotoran sampah, ia bisa menjadi sumber penyakit, bisa juga menjadi pupuk tanaman. Kematian juga serupa. Ia hanya bahan-bahan kehidupan yang memerlukan pengolahan lebih lanjut. Tanpa pengolahan melalui ketekunan, kesabaran, dan kebijaksanaan, kematian memang bisa memproduksi penyakit. Namun siapa saja yang mengolah kematian dengan ketekunan, kesabaran apalagi keikhlasan, kematian akan membawa manusia menyelam dalam di dalam kolam-kolam kehidupan. Ia lebih dari sekadar vitamin kehidupan, kematian bahkan dengan sabar membukakan rahasia-rahasia kehidupan.

Dengan bekal pengertian seperti ini, bisa dipahami kalau seorang guru pernah berbisik pelan, When you are doubtful thousand of holy scriptures are useless, when you are totally trust, even one word is too much. Ketika manusia penuh keraguan, ribuan buku suci tidak akan memberi banyak bermanfaat. Namun begitu pintu keikhlasan terbuka, bahkan satu kata pun sudah terlalu banyak.

Gede Prama, Kebahagiaan yang Membebaskan Menghidupkan Lentera di Dalam Diri, PT Gramedia Pustaka Umum, 2006.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
Pikiran yang Membutakan

Di British, Columbia, dibangun sebuah penjara baru untuk menggantikan penjara Fort Alcan lama yang sudah digunakan untuk menampung para narapidana selama ratusan tahun. Setelah dipindahkan ke tempat tinggal yang baru, para napi menjadi bagian dari pasukan pekerja untuk membongkar kayu, alat-alat listrik, dan pipa yang masih dapat digunakan dari penjara yang lama. Di bawah pengawasan para penjaga, napi-napi itu mulai meruntuhkan dinding-dinding penjara yang lama.

Saat melakukannya, mereka terperanjat oleh karena apa yang mereka temukan. Walaupun gembok-gembok mengunci pintu-pintu logam dan batangan-batangan baja dua inci menutupi jendela sel, dinding-dinding penjara itu sebenarnya terbuat dari kertas dan tanah liat yang dicat sedemikian rupa sehingga menyerupai besi! Jika ada dari para narapidana yang memukul atau menendang dinding itu dengan keras, dengan mudah mereka dapat membuat lubang dan melarikan diri. Selama bertahun-tahun, bagaimanapun juga, mereka tinggal berjubel dalam sel-sel yang terkunci. Mereka menganggap bahwa melarikan diri adalah sesuatu yang mustahil.

Renungan

Kita seringkali terkurung oleh pikiran kita sendiri. Anda tidak percaya? Coba gambarkan sebuah lingkaran dan satu titik. Hampir 90% orang menggambar titik di dalam lingkaran. Titik mewakili diri kita, sedangkan lingkaran adalah lingkungan kita.

Kita takut keluar dari kemapanan, takut keluar dari kebiasaan, dan takut keluar dari rasa nyaman.

Saat ini, banyak orang yang menjadi tawanan rasa takut. Mereka tak pernah berusaha mengejar impian-impian mereka karena berpikir bahwa itu merupakan sesuatu yang mustahil. Bagaimana Anda tahu bahwa Anda bisa berhasil bila tidak mencobanya?

Dessy Danarti, Hadiah Terindah “88 Kisah Motivasi dan Inspirasi bagi Sukses Hidup dan Karier, Penerbit Andi Yogyakarta, 2007.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
24 Kata-kata Penyejuk Hati

1. Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.

2. Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang, sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.

3. Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.

4. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati, cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia, dan uang yang cukup untuk membeli hadiah-hadiah.

5. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acap kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.

6. Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.

7.  Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.

8.  Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hati orang itu pula.

9.  Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi.

10. Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cinta menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.

11. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.

12. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.

13. Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang, dan sehari untuk mencintai seseorang tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.

14. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari, dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka.

15. Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika, dan masih tetap peduli padanya.

16. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya dan kamu harus melepaskannya.

17. Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah ciuman, dan berakhir dengan tetesan air mata.

18. Cinta datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka yang masih mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya.

19.  Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi yang lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakan cintamu kepadanya.

20. Masa depan yang cerah selalu tergantung kepada masa lalu yang dilupakan, kamu tidak dapat hidup terus dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.

21. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup, jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

22. Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu! Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh di hatimu.

23. Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian janganlah menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.

24. Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum – jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Penderitaan, Kematian, dan Pembebasan

Ada seorang sahabat yang menjadi pengamat kelahiran yang cermat. Setelah pergi ke banyak negara, menyaksikan demikian banyak kelahiran manusia ternyata ada yang sama di antara semua kelahiran: bayinya menangis, dan tangisannya hampir sama. Entah itu di Eropa, Amerika, Australia sampai dengan Asia semuanya bermuara pada dua hal serupa ini. Sehingga menimbulkan pertanyaan, “Apa tanda-tanda kehidupan yang bersembunyi dibalik semua ini? Tentu sangat terbuka peluang untuk lahirnya berbagai penafsiran dari sini. Dan ada seorang sahabat yang berbisik, Kalau bayi lahir menangis adalah tanda-tanda awal dari penderitaan. Mau lahir di keluarga kaya raya, berlimpah cinta sampai dengan disebut sempurna, tetap saja manusia tidak bebas dari penderitaan. Paling tidak pasti kena sakit, umur tua dan ditakut-takuti kematian. Dan tangisan yang serupa menunjukkan, kalau ia terjadi di semua tempat dan waktu.

Lebih-lebih di zaman ini. Di mana sejumlah hal menyentuh hati seperti terjadi tidak henti-hentinya: bunuh diri, gantung diri, perang, petaka alam, dan masih bisa ditambah dengan yang lain. Sehingga mudah sekali membukakan pintu keingintahuan, Kalau memang isi hidup ini adalah penderitaan, apakah kematian adalah jalan pembebasan? Kalau kematian adalah jalan pembebasan, bukankah bunuh diri sekaligus gantung diri adalah langkah-langkah pembebasan? Sungguh tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan berat ini.

Sejumlah guru pernah bertutur serius, kalau penderitaan manusia berakar pada identifikasi berlebihan pada badan dan pikiran. Badan dengan lubang-lubangnya di satu sisi memang menjadi sarana bertumbuh (mulut untuk makan, hidung untuk bernapas, dst), namun di lain sisi ia adalah pembuka jalan bagi penderitaan. Mulut yang nafsunya berlebihan adalah awal berbagai penyakit. Lubang seks di bawah kalau diikuti, semuanya bisa hancur dalam semalam. Pikiran juga serupa, ia pembantu yang baik, namun penguasa yang amat berbahaya. Sebagai pembantu, pikiran membantu berhitung, mengenali hitam-putih, baik-buruk, dst. Namun sebagai penguasa yang sifatnya dualistik (kiri-kanan, sukses-gagal), pikiran juga yang membuat manusia senantiasa berguncang. Tidak puas dengan titik kehidupan, kemudian melompat ke titik ekstrim lain yang bernama kematian. Tidak puas dengan keramaian, melompat ke titik ekstrim lain yang bernama sunyi-sepi. Ada satu hal yang tersisa dari sini: kehidupan yang berguncang!

Sehingga bisa dimaklumi, kalau ada seorang guru yang mengandaikan kehidupan manusia dengan a circle without center. Sebuah lingkaran berputar tanpa titik pusat. Di luar titik pusat, tidak ada hal lain terkecuali guncangan. Habis di atas, di bawah. Habis di kiri, di kanan. Habis kaya, miskin. Setelah bahagia, menderita. Setelah senang, sedih. Guncangan, guncangan, dan hanya guncangan. Tentu tidak terlalu mengejutkan menyaksikan kemudian, kalau di negara kaya seperti AS kemudian konsumsi pil tidur tergolong yang paling tinggi. Di keluarga kaya mudah sekali dipicu untuk tergelincir ke dalam pertengkaran dan perceraian. Semakin jauh kaki melangkah dari titik pusat (sebutlah amat kaya), semakin mungkin ia tergelincir ke titik ekstrem lain yang sama jauhnya dari titik pusat.

Dari sini, ada yang bertanya, Apa dan di mana titik pusat kehidupan? Sebuah keinginan intelektual sederhana, namun memerlukan sejumlah langkah berat untuk merealisasikannya. Sederhana, karena bisa dijelaskan dengan bahasa sederhana. Berat karena hanya latihan yang tekun yang bisa menghantar manusia ke sana. Ada banyak penjelasan tentang titik tengah. Sekumpulan orang timur (seperti Buddha, Confucius sampai Lao Tze) menyebut titik pusat ada
di jalan tengah (the middle way). Seperti menyetel senar gitar, terlalu kencang putus, terlalu kendor tidak berbunyi. Pengagum cinta, menyebutkan kalau titik tengah ada dalam cinta. Do everything lovingly, demikian saran sederhana namun mendasar. Sebab, apa saja yang dilakukan penuh cinta (dari menyapu, mengepel, menjadi ibu rumah tangga, sampai dengan bekerja) akan otomatis menggiring manusia ke titik pusat.

Ada lagi yang datang dengan penjelasan yang agak rumit. Titik pusat tidak di kepala, tidak juga di hati. Ia ada di pusar. Kepala hanya sumber guncangan. Hati hanya jembatan menuju pusar. Makanya, manusia-manusia yang hidup dengan hati lebih mudah hidup tenang seimbang, karena sedang melalui jembatan menuju pusar. Dan pusar ini juga yang menjadi titik paling menentukan ketika manusia berada dalam kandungan ibu. Dengan damai, tenang sekaligus seimbang setiap bayi berada di kandungan ibu. Dan kedamaian terakhir, dibimbing melalui titik pusat yang bernama pusar.

Ada juga penjelasan yang lebih rumit lagi, titik pusat ada di atas dualitas baik-buruk, benar-salah, sukses-gagal, hidup-mati, dst. Seorang guru pernah berbisik, “When you are not concerned with neither life nor death, then you are centered. Tatkala manusia tidak lagi ditarik terlalu kuat baik oleh kehidupan maupun kematian, ia mulai terpusat. Dan Anda pun dipersilahkan menambahkan pendekatan lain, atau memilih salah satu pendekatan yang ditawarkan di atas. Yang jelas kata-kata dan logika saja tidak banyak membantu. Hanya ketekunan berlatih dalam keseharian yang banyak membantu. Dan seorang sahabat yang latihannya mengagumkan, serta telah hidup bertahun-tahun di titik pusat pernah menulis buku berjudul No Fear No Death. Bahkan kematian pun berhenti menakut-nakuti ketika manusia terbebas di titik pusat.

Gede Prama, Kebahagiaan Yang Membebaskan Menghidupkan Lentera di Dalam Diri, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Tagged
Inilah Kepanjangan 7 Hari dalam Seminggu

Semua orang punya tujuh hari dalam seminggu. Berapa hari yang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya? Apa arti hari-hari tersebut untuk kita? Mari kita coba lihat.

1. Senin adalah singkatan dari Semangat nan Indah
Sebagian orang mengharap-harap tibanya hari Senin karena hari itu mereka mendapat uang. Yang telah libur, kembali berjualan sehingga uang masuk lancar lagi. Yang bekerja harian, berarti upah harian akan diterima kembali. Sebagian orang tidak suka dengan hari Senin. Yang malas bekerja merasakan beban berat karena Senin berarti mulai bekerja kembali. Yang tadinya bisa santai di rumah, kini harus kembali masuk kantor. Anak sekolah kembali bersekolah, tidak bisa main-main play station lagi. Para ibu harus bangun pagi lagi untuk memasak makan pagi anak-anak yang akan berangkat sekolah. Ada yang menunggu-nunggu hari Sabtu lagi yang rasanya masih sangat lama… Apa pun sikap yang kita pilih, tidak akan merubah hari Senin. Senin tetap datang. Senin tetap harus kita lalui entah kita senang atau tidak. Sikap mana yang akan kita pilih? Memulai hari Senin dengan menggerutu atau memulai hari Senin dengan Semangat Nan Indah?

2. Selasa adalah singkatan dari Selalu Luar Biasa
Ada orang yang berpendapat bahwa Selasa adalah hari yang biasa saja, tidak ada yang luar biasa. Mengapa begitu? Mengapa kita tidak membuatnya menjadi hari yang luar biasa? Luar biasa atau tidak, bukan tergantung dari nama hari atau pekerjaan kita. Tapi tergantung dari sikap hati kita. Tiap pagi saya bermain skipping (main tali) sebanyak 300 kali. Saya merasakan bedanya, ketika hati sedang malas, ya main tali jadi terasa berat. Tapi bila hati gembira, maka main tali menjadi ringan. Bahkan tanpa terasa bisa sampai 400 kali. Jadi saya selalu main tali sambil bernyanyi dan tersenyum. Hehehe…

3. Rabu adalah singkatan dari Rasakan Bahagia dalam Kalbu
Apakah kita bersyukur hanya kalau kita mendapatkan sesuatu? Kalau sedang senang dan kita bersyukur, itu sih biasa. Tapi bagaimana kalau kita sedang ada masalah? Apakah kita menggerutu dan marah-marah? Apakah kita bisa mensyukuri setiap kejadian dalam hidup kita? Waktu anak saya masih kecil, dia sering menangis di malam hari. Padahal tiap hari saya harus bekerja. Tapi saya bersyukur bisa bangun di malam hari dan memberikan ASI kepada anak saya. Saya senang ketika di malam hari dia terjaga dan memanggil Mama. Mama. Malah saya sengaja melarang baby sitter untuk bangun di malam hari dan mengurus anak saya. Saya pikir, toh tidak lama dia begitu. Nanti kalau dia sudah besar, dia tidak akan lagi memanggil Mama. Mama ketika terjaga di malam hari. Jadi saya nikmati keadaan itu. Saya syukuri saat-saat tiap malam saya bangun dan menggendong anak saya. Biarlah hati kita selalu dipenuhi rasa syukur. Biarlah kalbu berseri. Hati yang gembira adalah obat yang paling manjur.

4. Kamis adalah Kami Sukses
Apakah hari Kamis juga hari biasa? Bagaimana kalau kita membuatnya sebagai hari di mana kita sudah lebih sukses? Rasanya kita perlu mengingat kembali pentingnya Berpikir Positif. Bagaimana kalau tiap minggu kita mendapatkan sukses? Bagaimana kalau tiap hari? Apakah mungkin? Tentu saja. Yang perlu dilakukan adalah selalu berpikir positif. Kapan saja, di mana saja, dan siapa saja.

Bila seseorang berkata kepada kita:Wah, enak ya kerja di sana? Daripada berkata: “Enak apanya? Biasa saja kok. mengapa kita tidak berkata: Amin Bila seseorang berkata: Pasti kamu banyak uang? Daripada berkata: Nggak kok. Siapa bilang banyak uang? Lebih baik kita berkata: Amin. Kalau nanti benar-benar banyak uang, siapa yang menikmati? Kita sendiri kan? Asyik.

5. Jumat berarti Juga Amat Hebat
Seringkali Jumat menjadi hari yang kurang produktif karena sudah mendekati Sabtu, sehingga pikiran sudah ke hari libur. Mengapa menyia-nyiakan satu hari dalam hidup kita? Bagaimana kalau kita menjadikannya hari Jumat yang Juga Amat Hebat? Bagaimana kalau kita menggunakan hari ini untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tertunda? Memeriksa surat masuk? Mengevaluasi hari-hari kemarin? Mengatakan hal-hal indah yang belum sempat dikatakan?

6. Sabtu berarti Saatnya Bersatu
Hari Sabtu bisa menjadi hari yang produktif atau tidak produktif. Semuanya tergantung diri sendiri. Seorang Pengusaha justru paling produktif di hari Sabtu karena dia bisa memeriksa semua pekerjaan, memantau hasil kerja karyawan, mencari ide baru, dan puluhan kegiatan lain yang sangat bermanfaat. Bahkan dia membuat hari Sabtu sebagai hari di mana dia mendengarkan semua masalah yang dihadapi anak buahnya.
Orangtua yang libur dan ingin membina kedekatan dengan anak-anaknya bisa memanfaatkan hari Sabtu untuk bermain bersama, berenang, makan bareng, membersihkan rumah bersama atau jalan-jalan. Daripada hanya duduk dan masing-masing nonton acara tv kesukaannya tanpa adanya komunikasi. Pasangan yang saling mencinta bisa menggunakan hari ini untuk saling mengerti bukan hari untuk bertengkar. Hayoo..

7. Minggu berarti Mari Ingat Berkah Seminggu
Hari Minggu bisa dijadikan hari bermalas-malas atau bisa juga menjadi hari untuk mengevaluasi diri kita. Untuk mengevaluasi sikap kita. Apa yang telah dilakukan dalam seminggu? Apa yang salah? Apa yang benar? Apa yang dapat kita lakukan lebih baik minggu depan? Apa rencana baru yang perlu dibuat? Bagaimana supaya minggu depan lebih sukses? Bagaimana caranya bekerja lebih baik? Bagaimana caranya agar tidak terlambat masuk kerja? Dan seribu satu kegiatan lain.
Dengan demikian hari Senin akan kita nantikan dengan semangat karena kita telah punya rencana yang akan diterapkan. Hari Senin menjadi awal minggu depan yang lebih sukses.

Semua baik. Semua baik. Nggak ada hari yang buruk atau sial hanya tergantung bagaimana kita menyikapi hari yang kita lewati saja.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Hanya Diri Anda yang Bisa Membuat Anda Sukses

Suatu hari, saat hujan turun, seorang pemuda berteduh di teras rumah. Saat itu ada seorang lelaki tua yang lewat. Dengan nada memohon, pemuda itu berkata, “Pak, bolehkah saya meminjam payung sebentar?”

“Anda, di sana, tidak kena hujan, kenapa perlu payung saya?” dengan diplomatis orang tua itu menolaknya.

Mendengar jawaban bernada penolakan itu, pemuda tersebut melompat ke tengah jalan, lalu berkata, “Sekarang saya kena hujan, maukah Anda membantu saya?”

Orang tua itu membalas, “Anda kena hujan karena Anda tidak membawa payung. Sedangkan saya tidak kena hujan karena saya membawa payung. Anda harus mencari payung untuk melindungi diri Anda, bukan mencari saya untuk melindungi Anda.” Selesai berkata begitu, orang tua itu melangkah pergi.

Pesan

Tuhan hanya akan membantu mereka yang mempersiapkan diri. Anda harus berharap pada diri sendiri. Harus diakui, pertemanan dan networking memang mendukung kesuksesan seseorang, tetapi kalau Anda sendiri tidak punya persiapan, kemampuan, semangat, tekad, keahlian, atau kemampuan yang bisa dijual, siapa yang bisa membantu Anda? Anda membutuhkan payung untuk mencapai kesuksesan dan mencegah kehujanan. Namun, jangan bergantung sepenuhnya pada orang yang membawa payung. Jadi, selalu persiapkan diri Anda sebaik-baiknya!

Sumber: The Best of Chinese Life Philosophies, Leman.

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Petani dan Kuda

Johanes Lim dalam bukunya No Pain No Gain (1997) mengisahkan cerita menarik tentang petani dan kuda. Ada seorang petani di suatu desa yang mempunyai anak lelaki dewasa dan seekor kuda. Pada suatu hari si petani mendapati bahwa kudanya telah menghilang ke hutan, tentu saja ia sangat sedih. Kendati demikian, ia mencoba untuk tabah dalam menghadapi musibah itu. Pukulan dari tetangga-tetangganya semakin mengiris-ngiris kepedihan hatinya. Mereka bukannya empati tetapi malah mencemoohnya.

Syukurlah, selang beberapa minggu kemudian si kuda yang hilang tadi kembali. Kuda itu pulang dengan membawa teman seekor kuda liar. Si petani pun bersorak kegirangan.

Sementara untuk menjinakkan kuda liar agar bisa menjadi kuda tunggang, si petani menugaskan anak lelaki satu-satunya. Akan tetapi, kuda hutan itu masih sangat liar, anak petani itu tidak bisa mengendalikannya dan mengalami musibah. Dia jatuh dan terinjak kuda liar itu hingga mengharuskannya istirahat total agar tidak menjadi cacat seumur hidup.

Kembali si petani sedih dan tetangga pun mulai bernyanyi melihat peristiwa itu. Namun, si petani tetap optimis, Hari baik atau hari buruk bukan dia yang menentukan, pikirnya.

Selaku ayah dia sudah melakukan tugas sebaik-baiknya, selaku petani dia sudah mengambil bagiannya yang proporsional.

Namun, pada suatu hari -karena kebetulan pada waktu itu negaranya sedang mengalami perang saudara- datanglah serombongan pejabat militer dan pemerintah setempat untuk merekrut pemuda-pemuda di desa tersebut untuk mengikuti wajib militer. Semua orangtua yang anaknya direkrut untuk wajib militer, tidak tahu apakah anaknya itu akan kembali dalam keadaan hidup atau tidak.

Ketika pejabat militer tersebut tiba di rumah sang petani, dilihatnya kaki putra si petani sedang luka parah akibat jatuh dari tunggangan kuda liar beberapa hari yang lalu. Dia pun luput dari perekrutan wajib militer tersebut. Hari yang baik atau hari yang buruk, tidak ada yang tahu sepanjang kita melakukan tugas kita sebaik-baiknya. Kini para tetangga tidak bernyanyi lagi, sebab mereka telah larut dalam tangisan kesedihan akibat anaknya pergi dan belum tentu kembali.

Seorang bijak pernah berkata, dalam situasi yang serba tidak menentu, satu hal yang tidak dapat berubah namun justru mampu mengubah dunia sekeliling kita, yaitu senyuman, perkataan, dan ungkapan syukur.

Mengucap syukur merupakan tanda ketergantungan seseorang pada kuasa yang lebih berkuasa. Mengucap syukur menunjukkan kerendahan hati yang mulia untuk menerima apa yang patut diterima. Bahkan, bersyukur sendiri merupakan parameter kadar spiritualitas seseorang dalam berhubungan dengan Sang Pencipta-nya. Seorang sufi pernah bertutur bahwa salah satu indikator kualitas hubungan spiritual ini adalah ungkapan pertama yang keluar dari mulut kita setiap kali bangun pagi. Ada dua tipe manusia menghadapi pagi hari di saat bangun tidurnya. Manusia pertama berucap, “Terima kasih Tuhan untuk pagi yang indah ini!” Sedangkan tipe manusia yang kedua berkata, “Aduh, Tuhan. Kok sudah pagi lagi!”

Survei menunjukkan, seorang pekerja yang senantiasa bersyukur atas apa yang diterimanya baik suka maupun duka ternyata membuat dia lebih tahan terhadap penyakit stres akibat kerja dibandingkan mereka yang selalu menggerutu. Itulah sebabnya Deepak Chopra dalam bukunya Journey Into Healing pernah berkata, Health is not just the absence of disease, but the inner joyfulness that happen all the time” (Kesehatan tidak hanya berarti tidak adanya penyakit, tetapi kebahagiaan dan rasa syukur dari dalam, yang mengendap dalam waktu yang lama).

Apa yang diterima saat ini, suka maupun duka tidak menjadi alasan untuk tidak bersyukur. Bersyukur pada saat kita menerima apa yang diinginkan, kebaikan, kelimpahan, dan kesejahteraan merupakan hal yang mudah dan wajar. Namun, mensyukuri apa yang tidak kita terima padahal semestinya diterima merupakan usaha sendiri yang mulia untuk bersyukur. Mengucap syukur atas rekan yang sudah terlebih dahulu dipromosikan merupakan nilai kerendahan hati dan kematangan spiritual yang tinggi dalam bergaul. Bersukacita dan bersyukur atas keberhasilan materi seseorang merupakan motivator yang efektif untuk meningkatkan nilai dan jati diri. Bersyukur mungkin dapat dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana dan tidak perlu pemikiran teologia yang mendalam. Ketika kita tahu memposisikan diri di alam ini sebagai ciptaan yang memiliki nilai yang tinggi di antara seluruh ciptaan, di sinilah langkah untuk mengucap syukur dimulai.

Seperti kisah petani di atas, dibalik ucapan syukur selalu ada optimisme yang luar biasa. Optimisme yang sesungguhnya adalah menyadari masalah tetapi mengenali pemecahannya, mengetahui kesulitan namun yakin bahwa itu dapat diatasi, melihat yang negatif tetapi menekankan yang positif, menghadapi yang terburuk, namun mengharapkan yang terbaik, dan punya alasan untuk menggerutu tetapi memilih untuk tersenyum. Jadi, mengucap syukurlah dalam segala hal.

Parlindungan Marpaung, Setengah Isi Setengah Kosong Half Full-Half Empty, MQS Publishing, 2006

No Comments Posted in Pandangan Hidup
Jadilah Apa yang Kamu Inginkan

Ada seorang gadis kecil yang lahir di suatu keluarga besar yang miskin. Mereka tinggal dalam sebuah rumah sederhana di Tenesse, Amerika Serikat. Gadis itu adalah anak ke-10 dari 12 bersaudara. Ia lahir prematur dan sangat rapuh. Ketika berumur 4 tahun, ia terkena pneumonia dan demam scarlet – sebuah kombinasi yang mematikan yang akhirnya membuat kaki kirinya tak berdaya dan tak bisa berfungsi dengan baik. Ia harus mengenakan penopang kaki dari besi. Bagaimanapun, ia masih beruntung memiliki ibu yang selalu mendukungnya.

Sang ibu berkata pada anak gadisnya yang sangat cemerlang bahwa meskipun kakinya cacat, ia dapat menjadi apa pun yang ia inginkan dalam hidup. Sang ibu berkata bahwa yang ia butuhkan adalah keyakinan yang kuat, persistensi, keberanian, dan semangat pantang menyerah.

Kemudian, pada saat ia berumur 9 tahun, gadis kecil itu melepas penopang kakinya, dan mengabaikan apa yang dikatakan dokter bahwa kakinya tidak akan pernah kembali normal.

Dalam empat tahun, ia telah mengembangkan langkah ritmis – sebuah keajaiban medis. Kemudian, gadis itu mendapatkan impian-impian yang luar biasa bahwa suatu saat ia akan menjadi pelari wanita terbaik di dunia. Bagaimana mungkin itu terjadi, mengingat kondisi kakinya yang seperti itu?

Pada umur 13 tahun, ia mengikuti pertandingan. Ia tiba paling akhir – sangat akhir. Ia mengikuti setiap pertandingan di sekolah, dan setiap kali ia selalu tiba terakhir. Semua orang menyuruhnya berhenti! Tapi, suatu kali ia berhasil memenangkan pertandingan. Sejak saat itu, Wilma Rudolp memenangkan setiap pertandingan yang diikutinya.

Wilma kuliah di Universitas Negeri Tenesse, di mana ia bertemu dengan seorang pelatih bernama Ed Temple. Pelatih itu melihat semangat pantang  menyerah dalam diri Wilma. Gadis itu memiliki keyakinan yang kuat dan bakat alam yang besar. Ia melatih Wilma dengan baik sehingga gadis itu dapat mengikuti pertandingan olimpiade.

Di sana, ia harus berhadapan dengan pelari wanita terbaik dunia saat itu, Jutta Heine dari Jerman. Jutta belum pernah terkalahkan oleh siapa pun. Tetapi pada lintasan 100 meter, Wilma Rudolph yang menang! Ia mengalahkan Jutta lagi pada lintasan 200 meter. Kini, Wilma berhasil mengantongi dua medali emas olimpiade.

Akhirnya, tibalah pertandingan estafet 400 meter. Wilma harus bersaing dengan Jutta lagi. Dua orang pertama dari tim Wilma berhasil melakukan estafet dengan baik. Tetapi orang ketiga, saking senangnya, menjatuhkan tongkat pada saat dioperkan kepada Wilma. Wilma melihat Jutta telah berlari jauh di depannya. Sepertinya, tidak mungkin Wilma bisa mengalahkan Jutta. tetapi Wilma melakukannya! Dan ia mendapatkan medali emas olimpiade ketiganya.

Renungan

Ada perbedaan antara seorang juara dengan seorang pecundang. Di antaranya adalah keyakinan yang kuat, impian yang besar, persistensi, dan semangat pantang menyerah. Itu semua ditunjukkan oleh Wilma – seorang gadis berkaki cacat.

Sayangnya, masih sedikit orang yang berjiwa juara. Lebih banyak orang yang cepat menyerah pada keadaan dan cenderung menyalahkan kondisinya. Padahal, mereka dikaruniai tubuh yang normal dan pikiran yang sehat. Ketika hidup miskin, mereka menyalahkan nasib dengan berkata, mengapa tidak dilahirkan dalam keluarga kaya? Mengapa punya orangtua yang miskin sehingga tidak bisa membiayai kuliah? Mengapa tidak diberi wajah yang ganteng agar bisa menikah dengan gadis kaya?

Saat melihat orang lain sukses, bukannya terpacu untuk berhasil malah mencari-cari pembenaran diri dengan berpikir, pantas saja dia sukses, punya koneksi sih! Wajar bila dia berhasil, orangtuanya kan punya modal banyak! Jelas saja laris, ia punya teman-teman pejabat! Dan sebagainya.

Kita seharusnya malu, ada seseorang dengan keterbatasan yang mampu mencapai prestasi yang mengagumkan. Sementara itu, kita yang punya segalanya, malah membuat hidup menjadi tak berarti. Menyia-nyiakan kesempatan yang datang, memilih menyerah sebelum bertanding, dan berlindung dibalik pembenaran diri.

Marilah berubah sejak sekarang! Kita bisa menjadi apa saja yang kita inginkan.

Dessy Danart, Hadiah Terindah 88 Kisah Motivasi dan Inspirasi bagi Sukses Hidup dan Karier, Penerbit Andi, 2007

No Comments Posted in Pandangan Hidup